- PT Indonesia Infrastructure Finance mencatat komitmen pembiayaan baru sebesar Rp2,5 triliun pada semester I 2026.
- Pendapatan operasional dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan akibat pelunasan pinjaman dipercepat oleh nasabah.
- IIF memperkuat kapasitas pendanaan melalui penghimpunan dana domestik dan internasional untuk menopang ekspansi bisnis.
SuaraSurakarta.id - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) mencatat lonjakan signifikan pada bisnis pembiayaan infrastruktur sepanjang semester I 2026.
Nilai komitmen pembiayaan dan investasi baru mencapai Rp2,5 triliun atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan total sepanjang 2025 yang sebesar Rp799 miliar.
Peningkatan pembiayaan tersebut menjadi sinyal masih kuatnya permintaan pendanaan proyek infrastruktur di tengah ketidakpastian ekonomi global. Komitmen baru IIF tersebar di sejumlah sektor strategis, mulai dari kesehatan, pelabuhan, telekomunikasi dan data, hingga energi terbarukan.
Selain pembiayaan, bisnis jasa konsultasi (advisory) juga tumbuh pesat. Hingga Juni 2026, IIF memperoleh sembilan mandat baru dengan nilai kontrak mencapai Rp19 miliar atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga:Investasi Bodong Berkedok Koperasi: Bahana Lintas Nusantara Dipolisikan, Kerugian Capai Rp4 Miliar
Salah satu proyek utama yang dikerjakan adalah program Waste-to-Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk mendukung percepatan pengelolaan sampah perkotaan.
Dari sisi neraca, total aset IIF mencapai Rp15 triliun per Juni 2026 atau naik 4,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara aset produktif yang terdiri dari pinjaman dan surat berharga tumbuh 4,9 persen menjadi Rp13,4 triliun.
Meski demikian, pendapatan operasional perusahaan turun menjadi Rp542,7 miliar dari Rp653,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan dipicu lebih rendahnya pendapatan bunga investasi setelah adanya pelunasan dipercepat oleh nasabah pada kuartal I 2026.
Kondisi tersebut turut menekan laba bersih menjadi Rp38,2 miliar dari Rp85,3 miliar pada semester I 2025. Selain penurunan pendapatan bunga, laba juga dipengaruhi kebijakan pencadangan yang lebih konservatif.
Di sisi lain, pendapatan nonbunga justru meningkat 54,8 persen menjadi Rp43 miliar. Kenaikan didorong pertumbuhan bisnis pembiayaan dan investasi, advisory, serta treasury. Pendapatan bunga treasury juga naik 17,5 persen secara tahunan.
Baca Juga:Ekonom Apresiasi Peran Vital Buruh, Ajak Aksi Damai dalam May Day
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer IIF Rizki Pribadi Hasan mengatakan perusahaan tetap mampu menjaga ketahanan bisnis di tengah dinamika ekonomi global.
"Di tengah dinamika ekonomi global, IIF terus menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan portofolio, peningkatan aktivitas pembiayaan dan advisory, serta struktur pendanaan dan permodalan yang semakin kuat," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (1/8/2026).
Untuk menopang ekspansi bisnis, IIF juga memperkuat kapasitas pendanaan dengan menghimpun dana lebih dari Rp1,3 triliun dari lembaga keuangan domestik maupun internasional. Perseroan turut merampungkan penghimpunan dana tahap pertama melalui pasar modal senilai Rp652 miliar yang terdiri atas obligasi Rp432 miliar dan surat berharga perpetual Rp220 miliar.
Rizki menambahkan, hanya dalam satu bulan terakhir IIF telah menyelesaikan tiga transaksi baru dengan nilai hampir Rp833 miliar di sektor infrastruktur logistik, energi terbarukan, dan fasilitas pengolahan air. Menurutnya, pipeline transaksi perusahaan juga terus bertambah sehingga membuka ruang ekspansi bisnis hingga akhir tahun.
"Meskipun laba pada semester I lebih rendah, kami optimis dapat terus memperluas bisnis dan meningkatkan kinerja keuangan, didukung oleh permodalan yang kuat, peningkatan layanan, penurunan biaya dana, serta dukungan dan kolaborasi yang kuat dari para pemegang saham dan mitra bisnis," pungkasnya.