- Tim All Stars Solo kalah 1-2 dari All Stars Surabaya pada babak perempat final MilkLife Soccer Challenge 2026 di Kudus.
- Keunggulan gol cepat Ika Wonda dibalas oleh dua gol All Stars Surabaya melalui Emily Zitara dan juga Jessica.
- Pelatih Maya Susmita menyatakan kekalahan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk evaluasi dan pengembangan mental pemain di masa mendatang.
SuaraSurakarta.id - Perjalanan All Stars Solo pada ajang MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 harus berakhir di babak perempat final setelah kalah tipis 1-2 dari All Stars Surabaya di SuperSoccer Arena, Kudus, Jumat (26/6/2026).
Hasil tersebut membuat tim asal Kota Bengawan gagal mengulang pencapaian sebagai finalis pada edisi 2025.
Meski demikian, para pemain dinilai memperoleh pengalaman berharga untuk mendukung perkembangan mereka di masa mendatang.
All Stars Solo tampil meyakinkan sejak awal pertandingan. Ika Wonda membawa timnya unggul cepat pada menit ketiga dan membuka peluang untuk melaju ke babak semifinal.
Baca Juga:SD Kristen Manahan dan SDN Tempel Juara MilkLife Soccer Challenge Seri Solo
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. All Stars Surabaya mampu menyamakan kedudukan melalui gol Emily Zitara pada menit ke-10 sebelum Jessica mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-23. Skor 2-1 bertahan hingga pertandingan usai.

Sepanjang laga, para pemain Solo terus berupaya menyamakan kedudukan meski harus menghadapi tekanan permainan lawan serta cuaca yang lebih panas dibandingkan pertandingan sebelumnya.
Pelatih All Stars Solo, Maya Susmita, mengaku bangga terhadap perjuangan anak asuhnya. Menurut dia, para pemain telah menjalankan instruksi dengan baik dan tetap menunjukkan semangat juang meski sempat tertinggal.
"Anak-anak sebenarnya sudah sesuai dengan arahan saya. Kami sempat lengah pada momen gol lawan, tetapi saya terus memberikan semangat kepada mereka bahwa pertandingan belum selesai dan kami masih punya kesempatan membalas," kata Maya.
Ia menilai pengalaman tampil di tingkat nasional memberikan pelajaran yang tidak didapatkan dalam kompetisi biasa. Menurutnya, faktor cuaca, tekanan pertandingan, hingga kualitas lawan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter pemain.
Baca Juga:Turnamen Sepak Bola Putri Seri 2 di Solo Makin Kompetitif, Jumlah Peserta Terus Bertambah
"Hari ini pertama kali kami bermain di cuaca yang cukup panas. Kami juga harus mengejar ketertinggalan sehingga tenaga anak-anak lebih cepat terkuras. Namun, mereka tetap berusaha sampai akhir pertandingan," ujarnya.
Maya juga mengapresiasi mental bertanding para pemain yang tidak menyerah meski dalam kondisi kelelahan.
"Yang saya suka, anak-anak tidak menyerah. Walaupun sudah kelelahan, bahkan ada yang menahan sakit, mereka tetap berusaha mencari peluang sampai pertandingan selesai," katanya.
Menurut Maya, hasil di Kudus menjadi bagian dari proses pembinaan jangka panjang. Ia berharap para pemain terus meningkatkan kemampuan melalui latihan yang lebih intensif serta aktif mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB) agar memperoleh lebih banyak pengalaman bertanding.
"Mental menurut saya lebih penting. Ketika mental kuat, anak-anak bisa tetap bermain tenang. Ke depan mereka juga harus lebih banyak jam terbang dengan mengikuti SSB, jangan hanya mengandalkan latihan seminggu sekali," tuturnya.
Ia menambahkan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dievaluasi, terutama di lini tengah sebagai pengatur ritme permainan. Evaluasi tersebut akan menjadi bekal untuk mempersiapkan tim agar lebih kompetitif pada ajang nasional berikutnya.