Menurutnya kertas itu salah satu kerusakannya itu karena asam. Sehingga asamnya itu dinetralkan lalu kalau ada yang sobek-sobek diperbaiki dan perkuat juga, serat-serat yang sudah mulai rapuh dikuatkan juga menggunakan tisu Jepang.
"Nanti pada akhirnya akan dijilid kembali dan mengembalikan lagi bentuk primanya. Jadi umurnya bisa diperpanjang lagi," sambungnya.
Selain pelestarian secara fisik, juga dilakukan pelestarian secara informasinya. Di mana manuskrip kuno itu di capture dengan kamera informasi yang ada di dalam bentuk digital.
"Nanti juga bisa dilayangkan bentuk digitalnya kepada masyarakat lewat website. Jadi pelestariannya itu tidak hanya informasi tapi juga fisik dilestarikan," jelas dia.
Baca Juga:Sejarah Bondo Loemakso: Pegadaian Khusus Sentono dan Abdi Dalem Keraton Solo Tempo Dulu
Faisal mengatakan manuskrip kuno yang dilestarikan ini ada yang usianya hampir 300 tahun. Untuk tulisannya itu ada yang Arab, ada juga tulisan Jawa.
"Tata kelola di Perpustakaan Masjid Agung ini sudah bagus, mungkin sebelumnya sudah dilakukan pelestarian. Sudah terdata dan sudah katalog juga ada, tapi ada juga kondisinya masih rusak dan asam juga, itu yang kita kerjakan sekarang," tandasnya.
Kontributor : Ari Welianto