Pada tanggal 3 Maret 1916, RM Soeparto menggantikan pamannya Mangkunegara VI dengan gelar KGPAA Prangwedana VII. Setelah berusia lebih dari 40 tahun beliau diangkat dan diberikan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII pada tanggal 4 September 1924.
Selama menjabat Mangkunegara VII menerapkan banyak reformasi yang bertujuan memodernisasi kerajaan dan meningkatkan kehidupan rakyatnya. Misalnya mendorong pembangunan pertanian dan mendorong pertumbuhan industri, yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan mata pencaharian.
Berikutnya mendirikan sekolah dan lembaga pendidikan, membuat pendidikan lebih mudah diakses oleh masyarakat Mangkunegaran.
Pendidikan baginya penting baik bagi laki-laki dan perempuan, sehingga Mangkunegara VII sukses mendirikan Sekolah Siswa Rini yang saat ini menjadi SMP 5 Surakarta.
Baca Juga:Bakal Diserbu Wisatawan Saat Libur Akhir Tahun, Pura Mangkunegaran Siapkan Program Khusus
Serta berinvestasi dalam infrastruktur perawatan kesehatan dan meningkatkan akses ke layanan medis, yang mengarah pada hasil kesehatan yang lebih baik bagi rakyatnya.
Mangkunegara VII juga aktif dalam organisasi pergerakan Boedi Oetomo, menjadi penasehat perkumpulan pelajar Tri Koro Dharmo dan Jong Java serta aktif menulis di surat kabar Dharma Kandha.
Sejarah mencatat kalau tanggal 5-7 Juli 1918, Mangkunegara VII berkontribusi dalam Kongres Kebudayaan Jawa yang merupakan embrio Kongres Kebudayaan Indonesia.
Serta di tahun 1919 dirinya juga didirikan sebuah organisasi perkembangan kebudayaan pribumi mencakup Jawa, Madura, dan Bali yang bernama Java Institut yang saat ini menjadi Museum Sonobudoyo Yogyakarta.
Perlu diketahui kalau Java Institut menerbitkan majalah prestisius Jawa sebagai sarana komunikasi proses perubahan kebudayaan Jawa di tengah bayang-bayang kebudayaan Kolonial. Mangkunegara VII berkuasa selama 28 tahun dan meninggal pada tanggal 22 Januari 1944, pada usia 58 tahun karena sakit jantung.
Baca Juga:Diawali Konflik, Ini Perbedaan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang Masih Eksis di Solo
Almarhum dimakamkan di Astana Girilayu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia meninggalkan warisan yang besar bagi Mangkunegaran dan Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan.