Srati ini, kata Surojo hanya tidak sekadar jabatan. Namun, Srati ini adalah mereka yang harus mempunyai komunikasi dengan spriritual dengan salah satu pusaka Keraton Surakarta ini.
"Jadi sebagai Srati harus bagaimana menyikapi yang sesuai dengan adab yang sudah diwariskan dari leluhurnya. Dan rupa rupanya adab adab ini sudah mulai ditinggalkan," jelas dia.
"Ya mungkin, ini karena ketidaktauan atau karena ini situasi kondisi keraton yang memaksa demikian. Tapi paling tidak ini suatu bentuk keprihatinan kita bersama baik masyarakat, pemerhati budaya terhadap masalah tindakan itu, bahwa sudah ada penurunan cara pandang pusaka keraton yang seharusnya diuri uri kebudayaannya harus dipelihara keberadaannya. Dan bukan diperlakikan seperti itu," ujar Surojo.
Kontributor : Budi Kusumo
Baca Juga:Kirab Malam Satu Suro Kembali Digelar Setelah Dua Tahun Absen, 5 Kerbau Bule Disiapkan