Menurutnya, yang membutuhkan waktu lama adalah pengerjaan kontruksi pasangan, seperti pasang beton, batu bata atau pasang keramik.
"Itu seperti membangun toilet untuk disabilitas difabel. Itu kan butuh waktu dan ada standarnya," sambungnya.
Sementara itu Secretary General APSF, Col Wandee Tosuwan mengatakan ini kunjungan kedua dari APSF. Hari ini ada unsur yang datang , yakni APSF dan technical delegate.
Untuk technical delegate mengunjungi venue dengan melihat spesifik apalah perlu ada yang diperbaiki atau tidak.
Baca Juga:Perpres ASEAN Para Games Tak Kunjung Terbit, Gibran Sindir Presiden Jokowi: Pokoknya Kita Jalan Dulu
"Kalau APSF akan berdiskusi tentang anti doping, akreditasi atau masalah sport akan dibahas. Jadi misalnya bagaimana teknik menerima kontingen datang," ungkap dia.
Col Wandee menjelaskan, biasanya persiapan untuk ASEAN Para Games itu selama satu tahun tapi Indonesia hanya enam bulan.
"Seperti diketahui karena pandemi APG di Filipina dibatalkan, di Vietnam juga dibatalkan. Lalu Indonesia mengajukan diri untuk menghindari supaya tidak vakum," jelasnya.
APSF mengucapkan terima kasih dan mengacungkan jempol kepada Presiden Jokowi dan Ketua NPC yang punya gagasan awal untuk jadi tuan rumah APG.
"Saya tidak tahu bagaimana ,cara kerja Indonesia, tapi saya mendengar sendiri bahwa Indonesia sudah berpengalaman menjadi tuan rumah APG. Jadi saat Indonesia mengajukan sebagai tuan rumah menggantikan Vietnam, APSF langsung bersedia," tegas dia.
Baca Juga:Raih 6 Emas di Swiss Jadi Bekal Para-atletik Indonesia Jelang APG 2022
Kontributor : Ari Welianto