"Itu diikat di bawah pohon sampai shalat tarawih selesai, banyak warga lihat. Mungkin anak-anak itu merasa kalau ini pengaruh dari didikan bapaknya juga," ungkap dia.
"Namanya anak umur-umur segitu kan lagi main-mainnya, tapi saya tidak pernah memukul. Kalau bapaknya marah anak-anak dipukul dan diikat, saya sudah beritahu ke suami agar baik-baik, tidak begitu caranya untuk mendidik," sambungnya.
Menurutnya, untuk FN mulai memiliki rasa dendam itu sejak dikeluarkan dari pondok pesantren 2020 lalu. Ditambah sudah tidak bisa menerima keadaannya seperti itu, dan itu anak-anak tidak terima.
"Itu yang mungkin membuat anak saya syok dan trauma, sampai dendam seperti itu. Bahkan ada tetangga yang tanya ke anak saya yang pertama, ingat tidak kamu waktu kecil pernah diikat di bawah pohon di depan masjid," imbuhnya.
"Dikeluarin dari pondok itu karena bawa HP. Ia langsung telepon saya sambil menangis, waktu itu posisi saya di Sulawesi," ucap dia.
Kejadian itu diingat terus sampai dewasa, itu dialami anak-anak saat usia 2-3 tahun sampai masuk sekolah dan pondok.
"FN, memang sangat temperamen. Bapaknya kalau marah itu juga berkata kasar, padahal hari hari Wa, tanya kabar baik-baik malah marah-marah dan jawabannya berasa sakit hati, bahkan dikatain anak durhaka," terangnya.
Bahkan, GS dan istrinya pernah diusir dari rumah sama bapaknya sekitar dua minggu yang lalu. Tidak tahu ada perkataan ia ke bapaknya sampai keluar ucapan seperti itu.
"Saya dapat cerita itu, anak saya ketiga minta beli sepatu dan FN sudah selesai PKL, uang baju PKL belum terbayarkan. Lalu GS Wa ke bapaknya tapi malah diusir, saya tanya kenapa, kalau kamu tidak bisa urus adik kamu, tidak bisa biayai adik kamu, kamu keluar saja dari rumah," jelas dia.
Baca Juga:Cerita Tetangga Bocah TK Asal Kartasura yang Meninggal Dianiaya Kakak Angkat: Pernah Diikat Rafia
Setelah bercerai itu sudah ada hasil kesepakatan kalau bapaknya mau menafkahi setiap bulan Rp 2.500.000. Itu untuk anak kedua dan ketiga, sedang GS tidak karena sudah menikah.