Kisah Relawan Penjaga Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang di Sukoharjo: Banyak Warga Ngeyel hingga Sering Dimaki

Para relawan tersebut merupakan warga sekitar, yakni warga Dukuh Kudurejo RT 01 dan 04 RW 06 Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Sukoharjo.

Ronald Seger Prabowo
Minggu, 16 Januari 2022 | 17:00 WIB
Kisah Relawan Penjaga Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang di Sukoharjo: Banyak Warga Ngeyel hingga Sering Dimaki
Relawan penjaga perlintasan tanpa palang di Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. [Suara.com/Ari Welianto]

SuaraSurakarta.id - Perlintasan kereta api di Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Sukoharjo merupakan salah satu perlintasan tanpa palang yang dijaga para relawan.

Ada lima relawan yang berjaga di rel tersebut secara bergantian dari pagi hingga malam. Mereka berjaga mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, setelah pukul 23.00 WIB pintu akan ditutup.

Ada dua shift yang berjaga, shift pertama dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Sedangkan shift siang dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

Para relawan tersebut merupakan warga sekitar, yakni warga Dukuh Kudurejo RT 01 dan 04 RW 06 Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. 

Baca Juga:Pemerintah Subsidi Kereta Api Rp3,2 Triliun, Layani Sekitar 250 Juta Pergerakan Orang

"Ada lima relawan yang jaga dan itu dibagi dua shift. Mulai dijaga itu pukul 05.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB," ujar relawan penjaga perlintasan kereta api, Joko Dalyono (60) saat ditemui Suarasurakarta, Minggu (16/1/2022).

Banyak pengalaman yang diperoleh selama berjaga di pintu perlintasan. Salah satunya sering mendapat celaan dari warga yang ngeyel ingin melintas, padahal kereta sudah mau melintas.

Namun dengan tegas tidak boleh melintas meski dimaki warga. Karena ini untuk keselamatan bersama, baik kereta api atau warga.

"Yang ngeyel itu banyak ingin cepat-cepat melintas, padahal kereta sudah kelihatan. Tapi tidak masalah dan tetap diminta berhenti, dibuat santai saja biar sama-sama enak," katanya.

Menurutnya, dulu disini sering terjadi kecelakaan, banyak yang tertabrak dan terserempet kereta. Sempat ditutup lama setelah ada kecelakaan di perlintasan tanpa palang tidak jauh dari sini. 

Baca Juga:Minibus Tertabrak Kereta Api Logawa di Kabupaten Probolinggo, Empat Orang Tewas

"Setelah ada kecelakaan perlintasan tanpa palang ditutup semua. Berhubung warga kalau ditutup susah dan harus memutar minta agar tetap buka," sambungnya.

Dibayar Sukarela

Warga pun minta ke PT KAI agar perlintasan dibuka untuk akses warga. Dari PT KAI memberi kesempatan boleh dibuka tapi ada yang jaga, akhirnya ada warga yang jadi sukarelawan untuk jaga. 

"Dulu tidak pernah dijaga, baru dijaga sekitar 2 tahun ini. Kita sukarela, kita memang taruh kotak uang, kalau ada warga yang mau ngasih silahkan," ucap dia.

Untuk mengetahui ada kereta mau melintas itu lewat tanda lampu, kalau lampu menyala warna hijau kereta mau melintas.

Selian itu juga sering tengak tengok kanan kiri, kalau dari kejauhan sudah terlihat pintu akan ditutup dan warga boleh melintas. 

"Kita tidak hanya mengandalkan lampu saja, kita aktif juga tengak tengok. Biasanya saya jaga di tengah, kalau ke pinggir pasti kereta mau lewat, warga pun sudah tahu," imbuhnya.

Hal senada juga penjaga lain, Suro Sudarmo (60), ada warga yang sudah dikasih tahu kalau kereta mau lewat nekat menerobos. Ia sudah cukup lama menjadi relawan penjaga perlintasan ini.

"Banyak yang ngeyel, padahal kereta sudah kelihatan. Kita harus bisa memaklumi, karena ini untuk keselamatan bersama," papar dia.

Dulu disini hanya rel satu dan kereta yang melintas tidak begitu banyak. Tapi jadi rel ganda, jadi ramai apalagi dengan adanya Kereta Rel Listrik (KRL) yang hampir tiap jam ada.

"Dulu hanya rel satu, sekarang rel ganda. Kecelakaan sering terjadi sebelum ada yang jaga," terangnya.

Untuk mengetahui kereta lewat selain tanda lampu dan tengak tengok dengan jadwal kereta yang melintas. Tapi kalau jadwal seringnya itu terlambat, jadi harus benar-benar jeli.

"Kita punya jadwal kereta. Jadi tahu kereta yang lewat itu apa," jelas dia.

Dulu saat mau dibuka tapi dari PT KAI minta harus ada yang jaga. Kemudian warga ditawarkan siapa yang mau jadi relawan penjaga perlintasan, akhirnya mengajukan diri.

"Ini permintaan warga, terus ditawarkan yang mau jadi relawan. Jelas ini sangat membantu warga, tapi harus hati-hati," tuturnya.

Kontributor : Ari Welianto

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini