Ramalan Jayabaya yang satu ini benar terjadi di mana Indonesia kedatangan bangsa kulit putih, yaitu bangsa Belanda yang saat itu mendarat di Banten pada 1596 dibawah kepemimpinan Cornelis de Houtmen. Pada era 1811-1816, Pulau Jawa berada dibawah kepemimpinan Pemerintahan Inggris dan kemudian dikembalikan lagi kepada Belanda pada 19 Agustus 1816. Masa Pemerintah Belanda ini berlangsung hingga 350 tahun dan berakhir pada 1942.
Pada 1942, Indonesia dibawah pemerintahan Jepang yang berlangsung 3,5 tahun yang berakhir pada 17 Agustus 1945. Masa pemerintahan Jepang ini berakhir saat pasukan Sekutu memborbadir dua kota di Jepang, yaitu Nagasaki dan Hiroshima pada 9 Agustus 1945 yang akhirnya membuat Jepang menyerah kepada Sekutu dan melepaskan tanah jajahannya, salah satunya Indonesia.
Kendaraan Bermotor
Ramalan Jayabaya berikutnya adalah keberadaan kendaraan sebagai alat transportasi manusia. Jayabaya meramalkan bahwa akan ada kereta berjalan tanpa kuda (kereta api, sepeda motor dan mobil), kemudian pulau Jawa akan berkalung besi (rek kereta api) serta perahu terbang di angksa (maskapai penerbangan dan pesawat luar angkasa).
Baca Juga:Ramalan Zodiak 23 November 2021: Gemini, Saatnya Berhenti Mengontrol Orang Lain!
Ramalan ini juga tidak bisa ditepis lagi keberadaannya karena saat ini, mobilitas manusia sudah sangat dipermudahkan dengan keberadaan alat transportasi canggih sekaran ini. Kemudian ada juga ramalan tentang perilaku manusia yang menyimpang, seperti seks bebas yang kian merajalela dan menyebabkan kehamilan di luar pernikahan. Dia juga berujar bahwa agama banyak ditentang, rasa kemanusiaan hilang hingga munculnya dunia tanpa batas yang terlihat dengan adanya teknologi komunikasi modern saat ini.
Ramalan Pulau Jawa Terbelah
Namun ada satu ramalan Jayabaya yang belum terbuktikan, yaitu membelahnya Pulau Jawa akibat meletusnya Gunung Slamet di Jawa Tengah. Berdasarkan catatan sejarah vulkanologi Gunung Slamet yang dilansir dari vsi.esdm.go.id, awal meletusnya Gunung Slamet terjadi pada 11-12 Agustus 1772. Letusan ini menghasilkan aliran lava hingga hujan abu vulkanik.
Letusan besar Gunung Slamet yang juga menghasilkan aliran lava dan hujan abu terjadi kembali pada 1930, 1932, 1953, 1955, , 1958, 1973, dan 1988. Selain itu, aktivitas vulkanologi gunung ini hanya berupa peningkatan aktivitas yang diikuti dengan semburan abu, dentuman suara hingga kegempaan.
Dari serangkaian letusan di Gunung Slamet, tidak ada indikasi yang tercatat secara saintifik bahwa Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. Menurut analisa pakar vulkanologi, karakter letusan di Gunung Slamet bersifat ringan yang hanya menghasilkan luncuran abu serta batu pijar namun erupsi di Gunung Slamet ini berlangsung lama yang akhirnya membuat kawah gunung membesar.
Baca Juga:Ramalan Zodiak 22 November 2021: Sedang Sibuk, Ini Bukan Saatnya Libra Menyendiri
Bisa jadi, makna terbelah menjadi dua ini diartikan sebagai Gunung Slamet yang ukurannya semakin membesar dan menjadi pembatas dua bagian di pulau Jawa atau bisa bermakna lain lagi.