"Kadang atau sering kali malah disalahpahami. Ketika orang lain atau kita sendiri dikritik tentang pemahaman agama yang salah, kita malah yang emosi dan marah," paparnya.
"Dengan kecederdasan yang terbatas, emosi kita tidak bisa dikelola dan kemudian menuduh orang lain menghina agama kita. Padahal maksudnya bukan seperti itu. Nah itu yang sering terjadi di Indonesia," tegas dia.
Lebih jauh, Nana pun berharap adanya perubahan sistem pendidikan di Indonesia guna menunjang sistem dan cara berfikir anak agar lebih kritis.
"Biarkan anak bebas berpendapat. Ajak mereka mencari data dan bereksplorasi kehidupan untuk mengasah cara berfikir kritis," kata Nana.
Baca Juga:Profil Okto Maniani, Eks-Pemain Timnas Indonesia yang Kini Masuk Partai Politik
Menurutnya, melatih anak untuk bereksplorasi bisa dilakukan di sekitar tempat tinggal.
"Misalnya sekadar main di got depan rumah dan membahas kotoran serta tingkat populasi yang ada. Bisa dihitung bungkus plastik yang dibuang dan mencari data berapa ton sampah yang dibuat. Itu sudah membuat pemikiran anak menjadi terbangun," paparnya.
"Intinya adalah, IQ itu bukan penentu kecerdasan. Bisa saja IQ yang pas-pasan akan timbul kecerdasan yang bagus jika dilatih dan didikan yang benar," pungkasnya.