"Dulu sebelum 1837 masjid ini dibuat untuk membentuk strategi perang Pangeran Diponegoro, tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dengan PB VI. Terakhir untuk melindungi gerilyawan-gerilyawan pada 1949," ungkapnya.
Ada beberapa bukti identik Pangeran Diponegoro pernah di sini, seperti terdapat sumur Kyai Pleret yang konon sebagai penyimpanan peralatan perang dari Keraton Kasunanan Surakarta. Lalu ada makam-makam pengikut Pangeran Diponegoro di sebelah barat, seperti Tumenggung Tarumanegoro dan Pangeran Slarong.
Pada masa agresi Belanda kedua, kampung Kedunggudel khususnya Masjid Darussalam ini dibom oleh Belanda. Ceritanya itu Belanda mau masuk ke Kedunggudel itu susah dan bingung, akhirnya dari Sukoharjo dijatuhi bom sebanyak 21 buah.
Anehnya, meski dibom sebanyak 21 tidak ada yang meletus walaupun bomnya sudah mendarat di Kedunggudel. "Kalau sekali dua kali dibom mungkin kebetulan tapi ini sebanyak 21 kali. Kena dan sudah mendarat tapi tidak meletus," tegas dia.
Baca Juga:Tak Terima Keluarganya Diganggu, Pria Ini Setrum Mantan Pacar Istrinya
Bahkan sebelumnya pernah dibakar pada zaman perang Amangkurat 1 atau 2 yang kemudian dibangun lagi.
"Dulu di sini juga pernah menjadi tempat Muktamar Muhammadiyah yang waktu namanya masih kongres sekitar tahun 1923," sambungnya.
Untuk perawatan masjid selalu dilakukan oleh warga sekitar secara rutin. Bahkan setiap minggunya warga ramai-ramai melakukan perawatan.
"Biasanya itu malam jumat warga ramai-ramai membersihkan dan melakukan perawatan. Banyak jamaah yang datang ke sini melihat masjid dan ziarah di makam pengikut Pangeran Diponegoro," tandas dia.
Kontributor : Ari Welianto
Baca Juga:Viral Bunga Tabur di Makam Hilang Bikin Geger, Warganet Ikut Geram