Setahun Covid-19 dan Kisah 2 Mahasiswa Perantauan Bertahan di Solo

Tepat hari ini, setahun yang lalu Pemerintah Indonesia mengumumkan untuk pertama kalinya dua Warga Negara Indonesia (WNI) terpapar virus Covid-19.

Ronald Seger Prabowo
Selasa, 02 Maret 2021 | 17:06 WIB
Setahun Covid-19 dan Kisah 2 Mahasiswa Perantauan Bertahan di Solo
Salah satu mahasiswa perantauan yang menempiuh study di ISI Solo, Stefanus Rio Murti Prakoso (kiri) memilih bertahan di Kota Bengawan selama pandemi. [Suara.com/R Augustino]

SuaraSurakarta.id - Tepat hari ini, setahun yang lalu Pemerintah Indonesia mengumumkan untuk pertama kalinya dua Warga Negara Indonesia (WNI) terpapar virus Covid-19.

Virus yang ditengarai muncul di Wuhan Tiongkok itu terus menyebar dan berimbas pada seluruh aspek kehidupan masyarakat. Ekonomi melemah, pendidikan tak berjalan sebagai mana mestinya dan pariwisata lumpuh. 

Pemerintah dibuat pilu dalam mengambil kebijakan penanganan karena masyarakat butuh kelonggaran untuk konsisten menikmati makanan pokok setiap hari.

Tak terkecuali bagi salah satu mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Suarakarta, Reno Saputra (25) asal Belitung yang memilih bertahan di Solo sejak setahun lalu. 

"Saya tidak pulang dan memilih bertahan karena selain Belitung sedang dalam keadaan rawan, cost untuk pulang ke Belitung pun mahal," ungkap Reno kepada SuaraSurakarta.id.

Bertahan dalam ketatnya aturan yang diterapkan oleh Pemerintah, Reno yang juga seorang seniman mengaku hanya meraih 6 jobs dalam waktu setahun. 

"Di awal pandemi usaha jual beli alat musik masih jalan, namun pas ditengah-tengah pandemi harus berhenti. Alat-alat musik seperti Darbuka, Gambus dan Daff tidak bisa dikirim oleh vendor asal Mesir," terang Reno.

Meski begitu pandemi Covid-19 tak melulu soal dampak negatif, baginya ada dampak positif yang bisa ia rasakan saat bertahan dikala teman-teman satu indekosnya memilih untuk pulang kampung.

"Bagusnya, saya bisa lebih kritis lagi dalam membuat karya. Saat ini sudah punya, Malam Bejamun, 1 mini album berjudul Merantau atau Dirantau. Saya juga jadi aktif lagi menulis" paparnya.

Senada dengan Reno, Stefanus Rio Murti Prakoso (27) yang akrab dipanggil Glowor mengungkapkan, moment paling berkesan saat pandemi adalah memikirkan bagaimana cara besok dirinya makan.

"Aku hidup dari pentas dan pas pandemi pentas-pentas terkesan lumpuh. Meski begitu, tetap ada sisi posistifnya. Saat pandemi saya justru malah lebih produktif dalam menghasilkan karya komposisi musik," pungkas Mahasiswa Etnomusikologi Angkatan 2017 itu.

Kontributor: R Augustino

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak