- Seorang ibu buruh serabutan merasa bangga karena anaknya bisa bersekolah.
- Sang anak kini bisa mengenyam pendidikan berkat kehadiran Sekolah Rakyat.
- Ibu tersebut mengaku merasa haru anaknya kini kembali duduk di bangku sekolah.
SuaraSurakarta.id - Rasa syukur dan bangga tak bisa disembunyikan dari wajah Punijah (45), seorang buruh tani serabutan yang akhirnya melihat anaknya kembali bersekolah setelah sempat putus di tengah jalan.
Di tengah keterbatasan hidup dan beban sebagai tulang punggung keluarga, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Punijah hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Rumahnya berdinding gedek dan berlantai tanah. Penghasilannya tak menentu, hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari, itu pun jika ada pekerjaan dari tetangga.
Di sisi lain, suaminya mengalami depresi dan kerap pergi tanpa kepastian, membuat seluruh tanggung jawab keluarga berada di pundaknya seorang diri.
Dalam kondisi itu, Punijah tak mampu membiayai pendidikan anak sulungnya, Ahmad Lutfi. Sekolah pun terhenti. Lutfi terpaksa bekerja membantu ibunya.
Lutfi sempat bekerja di pabrik kerupuk di kawasan Tanon, Sragen, demi menambah penghasilan keluarga.
Namun di balik itu semua, ada keinginan kuat dari sang anak untuk kembali belajar, keinginan yang justru membuat hati Punijah semakin teriris.
"Dulu anak saya sudah minta-minta, 'Mak, aku pengen sekolah lagi', tapi aku gak mampu, Pak," katanya sambil menangis.
"Karena saya jadi tulang punggung sendirian, saya gak mampu untuk biayai anak saya sekolah," sambungnya.
Harapan itu kini terjawab. Ahmad Lutfi diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen, tempat di mana seluruh kebutuhan pendidikan dipenuhi tanpa biaya.
Mulai dari seragam, sepatu, hingga makan sehari-hari. Bagi Punijah, ini bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan kedua bagi anaknya untuk bangkit.
Tak hanya itu, Punijah juga menerima bantuan dua ekor kambing dari Kementerian Sosial untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Meski belum tahu akan dimanfaatkan seperti apa ke depannya, ia bertekad merawat bantuan tersebut dengan sebaik mungkin sebagai harapan tambahan di tengah keterbatasan.
"Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur. Saya tidak mampu, tapi anak saya bisa sekolah lagi, dibimbing dengan baik," ujarnya lirih.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
BBRI Kembali Dilirik JPMorgan, Valuasi Murah dan Dividen Tinggi Jadi Andalan
-
LDA Keraton Solo Ancam Buka Paksa Akses yang Dikunci, Penghalang Revitalisasi Bakal Dipidanakan
-
PB XIV Hangabehi Pastikan Revitalisasi Keraton Solo Dimulai Pekan Ini, Museum Jadi Prioritas Utama
-
BRI, OJK, dan Kemkomdigi Bersinergi Perkuat Pemberantasan Scam dan Judi Online
-
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo Cs, Langsung Jadi Saksi di Pengadilan