- Sekolah Rakyat yang diinisasi Presiden Prabowo menyelamatkan anak yatim dari bayi.
- Menurut nenek Welas, sang cucu tinggal bersamanya di Kampung Kedung Tungkul, Surakarta.
- Perubahan mulai terlihat, cucunya yang dulu dikenal sulit diatur, kini punya sikap lebih tenang.
SuaraSurakarta.id - Di usia senjanya yang telah menginjak 74 tahun, Ibu Welas tak lagi mampu berjualan sayur keliling seperti dulu. Namun satu hal yang masih ia genggam erat adalah harapan: masa depan cucunya, Julio.
Julio bukan anak dengan jalan hidup yang mudah. Sejak berusia satu tahun, ia telah kehilangan ayahnya yang meninggal akibat penyakit virus tikus setelah membersihkan selokan.
Sejak itu, Julio tumbuh dalam asuhan neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Perjalanan pendidikannya pun sempat terhenti. Setelah bersekolah hingga kelas 3 SD, Julio memilih berhenti.
Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, bergaul bebas, bahkan terlibat dalam perilaku kenakalan seperti lempar-lemparan batu hingga membawa senjata tajam bersama teman-temannya.
"Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran)," tutur Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4/2026).
Kondisi itu membuat sang nenek khawatir. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha mencari jalan agar cucunya kembali ke bangku pendidikan.
Hingga akhirnya, Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sekolah berasrama gratis yang diinisasi Presiden Prabowo Subianto untuk anak keluarga miskin ekstrem.
Perubahan mulai terlihat. Julio yang dulu dikenal sulit diatur, kini menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang.
Ia kembali menikmati proses belajar, bahkan menunjukkan kedekatan emosional yang lebih hangat dengan neneknya.
"Senang (Julio di Sekolah Rakyat) di bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, Mak aku seneng, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi," ujar Welas menirukan.
Bagi Ibu Welas, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi cucunya untuk tumbuh.
Selain itu, ketiadaan biaya harian menjadi kelegaan tersendiri. Sebelumnya, Julio kerap meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, yang menjadi beban bagi keluarga.
Kini, harapan itu kembali tumbuh. Ibu Welas tak muluk-muluk. Ia hanya ingin Julio menjadi anak yang baik dan mampu menjalani hidup dengan layak.
"Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak terlantar. Saya sudah tua. Nani sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik," harap sang Nenek lirih.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Persis Solo Tunggak Sewa Stadion Manahan Rp 3,21 Miliar, BRM Kusumo Putro: Ini Memalukan!
-
Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi