- KGPH Tedjowulan resmi mengajukan permohonan kepada BPK pada 22 Februari 2026 untuk mengaudit keuangan Keraton Surakarta.
- Audit tersebut bertujuan memisahkan tanggung jawab keuangan era sebelumnya demi pengelolaan keraton yang transparan.
- Saat ini, BPK sedang mengumpulkan data dan seluruh pihak dilarang keras menghalangi kelancaran proses pemeriksaan.
SuaraSurakarta.id - Pelaksana Perlindungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan minta agar pemerintah mengaudit keuangan keraton.
Tedjowulan bahkan sudah mengajukan permohonan kepada Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) untuk mengaudit keuangan keraton.
Permohonan audit keuangan dilakukan di era kepemimpinan Paku Buwono (PB) XIII.
"Ya, saya yang ditugaskan untuk mengantarkan surat kepada Ketua BPK RI di Jakarta," terang Juru Bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Pakoenegoro, Senin (23/2/2026).
Pakoenagoro mengatakan surat permohonan sudah diantar ke BPK pada, Kamis (22/2/2026) kemarin. Informasi saat ini BPK sedang dalam tahap pengumpulan bahan keterangan.
"Info dan data sedang dikumpulkan," ujarnya.
Permohonan audit dana keraton itu berdasarkan surat bernomor 02/SKMK.8.2026/PAKKSH/2026 tertanggal 21 Januari 2026 kepada Ketua BPK.
Dalam surat tersebut, KGPH Tedjowulan menegaskan dirinya sebagai Pelaksana Keraton Surakarta sesuai SK Menteri Kebudayaan Nomor 8 tahun 2026.
"Audit keuangan sangat krusial untuk memulai pengelolaan Keraton Surakarta agar kepemimpinan Gusti Tedjowulan bebas dari pertanggungjawaban pengelolaan keuangan era kepemimpinan sebelumnya," papar dia.
Baca Juga: Makin Panas! LDA Keraton Solo Gugat Soal Pergantian Nama KGPH Purboyo jadi PB XIV
Pakoenegoro menegaskan KGPH Tedjowulan memerintahkan agar jangan ada yang berusaha menghalang-halangi dan mengganggu jalannya audit keuangan di Keraton Surakarta.
"Jangan pula menyembunyikan informasi dan data. Pasti ketahuan, Gusti Tedjowulan menghendaki hukum ditegakkan dengan tegas. Siapa yang bersalah, dan merugikan keraton, harus dihukum," ungkapnya.
Menurutnya beliau juga melarang kepentingan pribadi atau kelompok dalam pengelolaan keraton. Oleh karena itu, tidak boleh lagi terjadi bantuan yang berasal dari APBN/APBD dan dana hibah lainnya disalurkan ke rekening pribadi.
"Harus melalui badan hukum. Semua prosesnya harus bersih, transparan dan akuntabel," tandas dia.
Kontributor : Ari Welianto
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'