SuaraSurakarta.id - Sejumlah calon kepala daerah yang maju di Pilkada serentak 2024 dari berbagai daerah di Indonesia ramai-ramai mengunjungi mantan Presiden Jokowi di Jalan Kutai Utara 1 Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.
Dari hasil penelusuran dan pantauan di lapangan, ada 22 calon kepala daerah baik cagub, cawagub, cabup maupun cawabup yang sudah sowan dan bertemu Jokowi
Mereka mulai datang sejak Jokowi purna tugas sebagai presiden, 20 Oktober 2024 lalu hingga saat ini.
Kedatangan para calon kepala daerah tersebut mendapat berbagai respon, seperti untuk minta doa restu dan dukungan dari mantan Wali Kota Solo. Tak sedikit yang minta agar Jokowi bisa ikut kampanye.
Baca Juga: Jokowi Buka Suara Terkait Hasil Survei Pilgub Jateng
Pengamat Politik UNS, Abdul Hakim melihat yang pertama itu sebagai bentuk deklarasi kesetiaan mereka ke Jokowi. Bahwa para calon kepala daerah ini menyatakan diri secara jelas kepada publik sebagai orangnya Jokowi.
"Dengan harapan akan menjadi alasan mendapatkan berkah elektoral. Karena kita lihat Pak Jokowi ini approval ratingnya tinggi, terakhir itu diangka 75 persen, bahkan dibeberapa daerah di Indonesia Timur, Jawa Timur sangat diterima," kata dia saat dihubungi Suara.com, Selasa (5/11/2024).
Abdul Hakim menyebut mereka berharap mendapatkan limpahan dari para pendukung dan simpatisan Jokowi. Pendukung Jokowi itu bukan hanya dalam arti relawan Jokowi tapi selama ini basis terbesarnya adalah masyarakat kelas bawah yang mendapatkan manfaat dari berbagai program bantuan sosial, sehingga selama ini selalu mendukung Jokowi.
"Saya pikir ini langkah strategis saja untuk mendapatkan efeknya walaupun Pak Jokowi sudah bukan lagi sebagai presiden," ungkapnya.
Abdul Hakim menilai ini juga sebagai konsolidasi Koalisi Indonesia Maju (KIM). Karena selama ini bisa dilihat beberapa calon dari KIM mendapatkan tantangan yang serius.
Baca Juga: Respati Ardi Pasang Foto Bambang Pacul Saat Debat, FX Rudy Buka Suara
"Sebagai contoh di Jateng ternyata dari hasil Litbang Kompas terakhir justru Pak Lutfhi sedikit ketinggalan dari Pak Andika. Jadi ini perlu dukungan yang kuat dari sosok seperti Pak Jokowi," kata dia.
"Kemudian juga Jatim walaupun relatif sudah aman tetap banyak simpatisan di sana. Di Jakarta bahkan Ridwan Kamil sudah mulai tersalip oleh Pramono Anung-Rano Karno, jadi balik lagi semua ujungnya adalah memperkuat simpati dan dukungan untuk memenangkan pilkada nanti," lanjutnya.
Menurutnya Jokowi pastinya punya kepentingan jangka panjang agenda politik. Beliau secara nasional masih sangat besar, kemudian yang menjadi faktor krusial Jokowi ini sosok tokoh politik yang tidak punya partai politik.
"Jadi tidak ada mesin politik yang menjamin kelanggengan pengaruh politiknya. Yang bisa dia lakukan adalah memimpin pengaruh melalui para kepada daerah, jadi dengan memberikan dukungan semacam ini artinya ada investasi politik kepada kepala daerah, kalau mereka menang maka tetap harus mendukung agenda politik Pak Jokowi," papar dia.
Abdul Hakim mengakui mekanisme politik di Indonesia akhir-akhir ini masih memakai sistem balas budi. Sudah ada semacam role model, bisa dilihat kemarin pasca pilpres, Prabowo Subianto sikapnya kalau istilah jawanya 'mikul duwur mendem jero.'
"Jadi semua calon kepala daerah yang mengharapkan dukungan Pak Jokowi, kira-kiranya sudah punya referensi seperti itu. Konsekuensi kedepannya seperti apa," jelasnya.
Abdul Hakim mengatakan ini juga Jokowi punya kepentingan memastikan pemerintah Prabowo-Gibran itu stabil. Problemnya kalau dilihat approval rating atau berkaca dari pilpres kemarin, Prabowo hanya dipilih oleh sedikit lebih besar dari 50 persen penduduk Indonesia.
"Dari segi legitimasi politik itu tidak terlalu kuat apalagi kalau mengambil kebijakan-kebijakan yang beresiko tinggi. Kan ada dua agenda besar yang ingin diusung Pak Prabowo, yakni makan siang gratis dan food estate. Itukan dua hal yang membutuhkan dana yang besar dan bisa menimbulkan polemik yang lumayan hangat di masyarakat, kalau tidak diantisipasi dengan baik itu mudah sekali dikapitalisasi untuk narasi oposisi," tandas dia.
"Dalam konteks ini Pak Jokowi punya kepentingan memberikan legitimasi politik tambahan kepada pemerintahan Prabowo baik secara langsung maupun menebarkan pengaruh di kepala daerah," pungkasnya.
Kontributor : Ari Welianto
Berita Terkait
-
Belum Ada Ucapan Maaf Lebaran dari Jokowi-Gibran ke Megawati, Guntur Romli PDIP: Tak Diharapkan Juga
-
Jokowi-Megawati Belum Terlihat Berlebaran, Analis: Luka Konfliknya Cukup Mendalam, Tak Ada Obatnya
-
Ada Blocking dari Tamu Open House Jokowi dan Prabowo, Rocky Gerung: Kelihatan Siapa Masuk Geng Mana
-
Ketua Joman Soal Peluang Jokowi Berlebaran ke Megawati: Ini Momennya Bersilaturahmi
-
Keluarga Besar Jokowi Kumpul di Solo Hari Kedua Lebaran, Gibran Sempat Tampung Aspirasi Warga
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Cek Pos Pam Ops Ketupat Candi, Kapolresta Solo Pastikan Pengamanan Arus Balik Lancar
-
Sambangi Lokasi Banjir di Sambirejo, Wali Kota Solo Siapan Berbagai Penanganan
-
Terendam Banjir, Underpass Simpang Joglo Solo Ditutup Total
-
Sempat Tak Percaya, Ini Momen Bima Arya Kaget Ada Wisata Jokowi di Solo
-
25 Kepala Daerah Ikuti Retret Gelombang Kedua, Ini Kata Wamendagri