SuaraSurakarta.id - Kinerja pemerintah masih menunjukan tren positif. Meskipun menjelang akhir jabatan Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini.
Hasil survei dari Skala Survei Indonesia (SSI), yang dilakukan pada 6-12 November 2022, menunjukkan bahwa sebanyak 63,6 persen responden merasa puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo.
Direktur Eksekutif SSI Abdul Hakim, menyebutkan dari 63,6 persen responden yang merasa puas tersebut, 9,8 persen di antaranya menyatakan sangat puas dan 53,8 persen cukup puas.
"Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Joko Widodo yakni sangat puas 9,8 persen; puas 53,8 persen," kata Abdul Hakim dikutip dari ANTARA pada Jumat (18/11/2022).
Sementara itu, 25,1 persen responden lain merasa tidak puas dengan kinerja Presiden Jokowi; 3,8 persen merasa sangat tidak puas; dan 7,5 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Abdul Hakim menyebutkan beberapa alasan responden sehingga merasa puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Pertama, responden merasa puas dengan kinerja Jokowi karena adanya pemberian bantuan kepada rakyat kecil. Kedua, responden menilai Jokowi memiliki kinerja cukup bagus.
Alasan ketiga, lanjutnya, kepemimpinan Jokowi dinilai mampu menghadirkan pembangunan yang merata, dekat dengan rakyat, dan menghadirkan pembangunan infrastruktur dengan baik.
Sementara itu, terkait alasan ketidakpuasan para responden terhadap kinerja Jokowi tersebut di antaranya adalah mereka menilai harga kebutuhan pokok semakin mahal, penyaluran bantuan bagi rakyat kecil tidak merata atau tidak tepat sasaran, serta harga bahan bakar minyak (BBM) selalu mengalami kenaikan.
Survei SSI dilakukan dengan menggunakan populasi responden survei yang terdiri atas seluruh warga negara Indonesia (WNI) berusia 16 tahun ke atas atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Kemudian, penarikan sampel survei menggunakan metode acak bertingkat atau multistage random sampling, dengan jumlah sampel basis sebanyak 1.200 orang dan berasal dari 34 provinsi di Indonesia.
Teknik pengumpulan data survei tersebut adalah wawancara secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Melalui metode penarikan acak bertingkat, ukuran sampel basis 1.200 responden memiliki toleransi atau batas kesalahan (margin of error) sekitar 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
Kenang Ki Anom Suroto, Respati Ardi Branding Kota Solo dengan Karya Jingle 'Solo Berseri'
-
5 Destinasi Wisata Kota Solo Paling Nyaman untuk Lansia, Minim Naik-Turun Tangga
-
5 Mobil Bekas Rp150 Jutaan yang Bikin Anda Tampil Ala 'Orang Kaya Lama'
-
7 Fakta Panas Kemelut Keraton Solo: Intervensi Pemerintah hingga Polemik Dana Hibah!
-
Sapa Warga Solo, Film 'Tuhan Benarkah Kau Mendengarku?' Ruang Refleksi Keluarga Indonesia