SuaraSurakarta.id - Kecemasan akibat pandemi COVID-19 yang terjadi hampir tiga tahun tak bisa dihindarkan. Hal itu tentu saja membuat kehidupan menjadi terganggu.
Rasa cemas, khawatir hingga meningkatkan kadar stres dirasakan sebagian orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun pertama pandemi, prevalensi global kecemasan dan bahkan depresi meningkat masif 25 persen.
Ini terkait isolasi sosial yang menyebabkan orang-orang terkendala melakukan kegiatan sehari-harinya dan mencari dukungan dari pihak tercinta.
Kesepian, ketakutan terkena infeksi, kematian orang yang dicintai dan kekhawatiran pada masalah keuangan juga menjadi pemicu stres yang mengarah pada kecemasan dan depresi. Di antara petugas kesehatan, kelelahan memicu pemikiran bunuh diri.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sali Rahadi Asih mengatakan munculnya sederet masalah ini karena masyarakat awalnya tidak tahu cara menghadapi COVID-19.
Tubuh mereka juga belum membentuk imunitas melawan penyakit akibat infeksi SARS-CoV-2 itu. Belum lagi, berita-berita kematian di berbagai media turut menambah stres.
Mereka yang stres dan cemas lalu terganggu pola tidurnya. Untuk bisa tidur, orang harus berada dalam kondisi tenang. Berbagai cara bisa dilakukan untuk menciptakan kondisi tenang salah satunya membuat kamar nyaman. Tetapi, rasa cemas dan stres menghancurkan segala upaya untuk bisa tidur.
Tak adanya batas atau boundary management saat bekerja dari rumah (work from home atau WFH) turut menjadi penyebab masalah tidur bagi sebagian orang. Sebelum pandemi, orang-orang memiliki batas-batas jelas antara kehidupan personal dan profesional.
Perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya sedikit banyak berperan sebagai batas ini. Selama perjalanan ke kantor, orang-orang bersiap dengan kondisi bekerja sehingga meninggalkan urusan di rumah sementara waktu. Begitu juga saat kembali ke rumah. Orang-orang bersiap menghadapi kondisi rumah dan menyimpan urusan pekerjaan.
Baca Juga: Update COVID-19 Jakarta 19 Agustus: Positif 2.217, Sembuh 2.288, Meninggal 5
Jam kerja juga berlaku secara jelas. Tetapi saat pandemi, pekerjaan atau rapat yang dapat dikerjakan secara daring dapat berlangsung sampai malam hari. Ini membuat tubuh selalu dalam kondisi siaga.
Ini membuat semuanya campur aduk dan membuat orang-orang selalu on dan sulit tidur. Kemudian bagi mereka yang sudah memiliki kepribadian pencemas, tidurnya menjadi lebih bermasalah, kata Sali.
Masalah tidur terus menerus atau insomnia terbagi menjadi beberapa tipe yakni sulit tidur, terus bangun di malam hari dan bangun terlalu pagi. Biasanya masalah dimulai dari sulit tidur lalu semakin lama berkembang ke tipe lain.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara sekaligus psikoterapis Sandi Kartasasmita sependapat dengan Sali. Dia menyoroti pimpinan-pimpinan yang memberikan pekerjaan pada pegawainya tanpa mengenal jam kerja. Ini menyebabkan masalah fisik dan mental dialami para pegawai, salah satunya berujung pada insomnia.
Pakar kesehatan yang berfokus pada perilaku tidur Michelle Drerup bahkan menyebut insomnia yang dialami orang-orang selama pandemi sebagai coronasomnia, atau covidsomnia. Ini merujuk pada masalah tidur terkait stres akibat pandemi COVID-19.
Dia menuturkan, stres berdampak pada setiap area kehidupan orang dan ini akan memengaruhi tidurnya. Kondisi ini diperparah oleh pandemi COVID-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Bertemu Presiden Prabowo, Jokowi Akui Tak Bahas Putusan MK, Tapi Kemenangan Timnas Indoenesia
-
Jokowi Buka Suara Soal Polemik Ijazah Gibran: Setiap Negara Punya Sistem Berbeda!
-
Melihat Batik 'Rona Nusantara' Karya Syarif Abdillah, Siswa SMA Muhammadiyah 6 Surakarta
-
Bawaslu Solo Buka Suara Soal Ijazah Gibran di Pilkada 2020
-
Soal Ijazah Gibran, KPU Solo Tegaskan Sudah Lakukan Verifikasi Secara Faktual