Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Selasa, 07 Juni 2022 | 18:35 WIB
Perahu penyeberangan di Sungai Bengawan Solo. [Suara.com/Ari Welianto]

"Tarifnya hanya Rp 2.000 per orang. Kadang juga ada yang ngasihkan lebih Rp 5.000 atau Rp 10.000, pernah juga Rp 50.000," kata Bagong, sapaan akrabnya.

Menurutnya, perahu penyeberangan Sungai Bengawan ini sudah ada cukup lama, mungkin sebelum Presiden Sukarno atau masa kerajaan.

Apalagi dulu itu Jembatan Jurug dan Jembatan Mojo belum ada, sehingga perahu jadi pilihan utama warga waktu itu.

Dulu perahunya dari kayu jati yang berukuran cukup besar, kalau sekarang kan fiber yang diatasnya dilambari tratak bambu dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo tahun 2020 lalu. 
 
"Ini sudah ada lama sekali, dari cerita simbah-simbah saya. Jadi sudah turun temurun sampai generasi keempat sekarang, mulai dari simbah-simbah, bapak, terus saya," terang Warga RT 03 RW 03 Desa Gadingan, Sukoharjo ini.

Baca Juga: Air Bengawan Solo Berubah Kondisi, Ikan-ikan Pada Teler, Warga Lamongan Serbu Sungai

Bahkan dulu itu, dari sini sampai daerah Mojo itu ada tiga perahu penyeberangan. Tapi sekarang tinggal satu yang bertahan, karena kemudian dibangun Jembatan Mojo.

Ia sudah belajar menjalankan perahu penyeberangan itu dari simbah saat usia 20 atau tahun 1972. Lama-lama jadi bisa dan setelah bapak meninggal melanjutkan. 

"Mulai belajar itu tahun 1972, awalnya tidak menarik atau mendayung tapi melihat caranya, istilahnya itu jadi kernet, yang mintain uang ke penumpang," imbuh bapak lima anak ini.

Menurutnya, tidak sulit dan harus berani tidak perlu takut. Selain itu harus melihat kondisi air seperti apa, jadi tidak asal menarik. Kadang alirannya itu deras, kadang juga tidak.

Untuk menarik atau mendayung pun jangan melawan arus, tapi miring. 

Baca Juga: Geger Penemuan Jenazah Perempuan Kondisi Sudah Bengkak Mengapung di Bengawan Solo Bojonegoro

"Karena jejeg atau lurus pasti abot. Istilahnya itu seperti mengiris tempe miring," tandasnya.

Load More