SuaraSurakarta.id - Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia, Prof. Dr. Seger Handoyo, mengatakan stigma kesehatan mental masih terjadi di masyarakat Indonesia dan perlu upaya untuk menghapus stigma tersebut.
"Literasi kesehatan mental masih rendah," kata Seger dikutip dari ANTARA Sabtu (4/6/2022).
"Kita masih harus terus mengubah pandangan masyarakat tentang kesehatan mental," lanjut dia.
Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengajak masyarakat untuk mencurahkan perasaan kepada orang terdekat bila ada masalah, atau berkonsultasi kepada psikolog bila membutuhkan bantuan profesional yang tersebar di penjuru Indonesia.
"Kita butuh orang lain untuk bisa membantu agar kesehatan mental optimum," katanya.
Kesehatan mental tak hanya berarti bebas dari gangguan kejiwaan, tetapi adanya emosi positif, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki hubungan sosial yang baik, juga bebas dari perasaan-perasaan yang negatif.
"Bebas dari kecemasan dan mampu menghadapi tuntutan serta stres kehidupan sehari-hari, itulah orang yang sehat mental," kata Seger.
Upaya meningkatkan literasi kesehatan mental memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, kata Seger. Ia berharap, kedepannya masyarakat bisa terdorong untuk selalu menjaga kesehatan mental selayaknya menjaga kesehatan fisik.
Psikolog klinis Karina Negara menambahkan, tingkat kesadaran kesehatan mental masih rendah di Indonesia.
Baca Juga: Lakukan Tes Kesehatan Mental, Ahreum Eks T-ara Bikin Khawatir Penggemar
"Masih banyak yang bilang konseling cuma buat orang gila," ia mencontohkan.
Kendati demikian, kesadaran soal kesehatan jiwa terus membaik selama beberapa tahun belakangan, di mana orang-orang mulai nyaman bercerita soal kondisi kesehatan mentalnya secara terbuka.
Model Danella Ilene, pemenang Indonesia's Next Top Model, adalah salah satu yang terbuka mengenai pergulatan soal kesehatan mental. Ilene, sapaan akrabnya, pernah mengalami kecemasan di awal karier sebagai model. Industri yang menerapkan standard kecantikan tinggi memberikan tekanan besar kepadanya.
Selama tiga tahun, tekanan itu membuatnya merasa depresi dan menjalani pola makan yang salah. Selama tiga tahun, sejak 2015, Ilene tak memahami apa yang sebenarnya dia alami.
"Yang kurasakan adalah sedih, merasa kurang, tidak bersahabat dengan badan sendiri, insomnia, depresi, suicidal thoughts," ujar dia.
Puncak ketidaknyamanan dirasakan pada 2018 hingga akhirnya dia mencari pertolongan, berawal dari mencari informasi di dunia maya dan kemudian mendapatkan kontak psikolog.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
-
Jokowi Pamer Ijazah di Depan Mukanya, Roy Suryo Ketawa Ngakak
-
Relawan Jokowi Padati PN Jaktim, Joget-Joget dan Bawa Poster Sindiran untuk Roy Suryo
Terkini
-
Kubu PB XIV Purboyo Gelar Tingalan Dalem Jumenengan di Kediaman Raja Sasana Narendra
-
Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
-
Raffi Ahmad Batal, Ndarboy Genk dan Bayu Skak Putuskan Mundur, GSI Youth Fest di Solo Tetap Digelar
-
Belasan Karyawan Pabrik Tas Perempuan di Solo Alami Kesurupan, Teriak-teriak Histeris
-
Kisah Cinta Putri Mangkunegaran dan Bos Rosalia Indah: Sempat Putus 10 Tahun, Kini Bersemi Lagi