Peran telemedisin di tengah kenaikan BOR (bed occupancy rate)
Keluhan ini disampaikan di tengah kenaikan tingkat hunian rumah sakit oleh pasien Covid-19. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mencatat saat ini tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di rumah sakit untuk isolasi mencapai 16%.
"Untuk [BOR] ICU (Intensive Care Unit) sekitar 6%," kata Kepala Persi, Bambang Widodo kepada BBC News Indonesia, Rabu (02/02).
Sementara itu, tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit terkait Covid-19 di Jakarta mencapai 60%, dengan ICU 28%.
Bambang mengatakan, tingkat keterisian yang didominasi pasien tanpa gejala dan ringan yang terus meningkat ini, berisiko menjadi "beban rumah sakit".
"Kalau benar sampai kasus itu pecah di awal Maret, kenaikannya tinggi, itu kan butuh rumah sakit terjaga. Kalau dulu itu, rumah sakit kan roboh waktu delta itu, tidak mampu melayani," katanya.
Menurutnya, tingginya pasien tanpa gejala atau bergejala ringan yang mendominasi rumah sakit, salah satunya disebabkan minimnya pengetahuan mengenai omicron. Pemahaman yang sejatinya bisa dibantu dengan layanan telemedisin.
"Kalau pemahaman lebih baik, kemudian sosialisasi mereka dengan fasilitas telemedisin dan telekonsultasi dan telefarmasi, kalau bisa dikerjakan oleh pemerintah, saya kira itu akan membantu masyarakat untuk bisa percaya diri melakukan isolasi mandiri di rumah," tambah Bambang.
Jika layanan telemedisin "benar-benar baik" kata dia, kemungkinan bisa mengurangi keberadaan pasien tanpa gejala dan bergejala ringan di rumah sakit hingga setengahnya.
"Konsultasinya cepat untuk direspon. Kemudian mendapatkan layanan farmasinya baik, kemudian akses telemedisnya gampang, [itu] bisa menahan cukup besar," kata Bambang.
Baca Juga: Positif Covid-19 Indonesia Meroket 17.895 Orang, 25 Jiwa Meninggal Dunia
Jadi perhatian Presiden Jokowi
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya agar layanan medis daring (telemedisin) pengiriman obat kepada pasien Covid-19 isolasi mandiri dipercepat menjadi hitungan jam.
Perintah ini dikeluarkan menyusul laporan masyarakat mengenai keterlambatan pengiriman obat telemedisin. Laporan-laporan keterlambatan pengiriman obat telemedisin ini dibahas dalam rapat KSP dan telah diserahkan ke presiden.
Hal ini direspon Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Abraham Wirotomo, "Bapak Presiden memerintahkan untuk memeriksa penyebabnya kenapa dan memastikan obat bisa tiba dalam hitungan jam," katanya seperti dilansir Antara.
'Ada prosedur yang harus ditempuh'
Sejauh ini Kemenkes belum memiliki data berapa banyak masyarakat yang memanfaatkan telemedesin meskipun diklaim "sudah cukup banyak feedback dari beberapa masyarakat yang sudah mengakses layanan ini".
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Kisah Ahda Dhiyaurrohman, Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Solo, Nekat Merantau Tanpa Restu Ortu
-
Dewi Natalia, Mantri BRI yang 14 Tahun Dampingi Pedagang dan Lawan Jerat Rentenir
-
Warung Makan Non Halal di Sukoharjo Diduga Dibakar oleh OTK
-
Holding Ultra Mikro 5 Tahun, Jutaan UMKM Makin Berdaya
-
Mantan PMI Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon hingga Jantung Kota Taipei