SuaraSurakarta.id - Regulator kesehatan Amerika Serikat menyatakan vaksin COVID-19 Pfizer tampak sangat efektif dalam mencegah infeksi simtomatik pada anak-anak sekolah dasar dan tak menyebabkan masalah keamanan yang tidak terduga.
Para ilmuwan di Badan POM Amerika Serikat (FDA) seperti dikutip dari ABC News, Senin, menemukan, vaksin bermanfaat untuk mencegah rawat inap dan kematian akibat COVID-19 lebih besar daripada potensi efek samping serius pada anak-anak.
Jika FDA mengizinkan suntikan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) akan membuat rekomendasi vaksinasi pada anak-anak agar mereka bisa divaksin pada awal bulan.
Suntikan Pfizer sebelumnya direkomendasikan mereka yang berusia 12 tahun atau lebih, tetapi dokter anak dan banyak orang tua dengan cemas menunggu perlindungan bagi anak-anak yang lebih kecil untuk membendung infeksi dari varian delta ekstra menular dan membantu anak-anak tetap bersekolah.
Tinjauan FDA menegaskan studi Pfizer yang menunjukkan suntikan dua dosis hampir 91 persen efektif mencegah infeksi simtomatik pada anak kecil.
Para peneliti menghitung angka tersebut berdasarkan 16 kasus COVID-19 pada anak-anak. Mereka tidak ada penyakit parah yang dilaporkan di antara anak-anak. Bahkan, anak-anak yang divaksinasi memiliki gejala yang jauh lebih ringan daripada rekan-rekan mereka yang tidak divaksinasi.
Sebagian besar data penelitian dikumpulkan di Amerika Serikat selama Agustus dan September, ketika varian delta telah menjadi varian COVID-19 yang dominan di kawasan itu.
Sebuah tinjauan juga memperlihatkan tidak ada efek samping baru atau tak terduga, selain sakit lengan, demam atau pegal-pegal.
Namun, ilmuwan FDA mencatat bahwa studi ini tidak cukup besar untuk mendeteksi efek samping yang sangat langka, termasuk miokarditis atau sejenis peradangan jantung yang kadang-kadang terjadi setelah dosis kedua.
Baca Juga: Bulan Depan, Amerika Serikat Mulai Vaksinasi COVID-19 Anak Usia 5-11 Tahun
FDA menggunakan pemodelan statistik untuk mencoba memprediksi angka rawat inap dan kematian akibat COVID-19 yang akan dicegah vaksin versus jumlah potensi efek samping jantung.
Dalam empat skenario pandemi, vaksin diketahui mencegah lebih banyak rawat inap daripada yang diharapkan dari efek samping pada jantung.
Secara keseluruhan, regulator menyimpulkan manfaat perlindungan vaksin jelas akan lebih besar daripada risikonya. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'
-
Refleksi 100 Tahun Sumpah Pemuda, GSI Kumpulkan Ratusan Anak Muda Lintas Organisasi di Kota Solo
-
Demo di Rumah Jokowi, Massa Bawa Spanduk Gibran 'Anak Haram Konstitusi' Tuntut Mundur dari Wapres
-
Kiper Jebolan Kendal Tornado FC Youth Tepis Dua Penalti, Solo Raih Emas Porprov Jateng