SuaraSurakarta.id - Keluarga Akidi Tio mendadak menjadi perbincangan hangat. Keluarga dari keturunan Tionghoa yang bermukim di Sumatera Selatan (Sumsel) itu menyumbangkan uang dengan nilai fantastis yaitu Rp 2 triliun.
Namun demikian, sumbangan untuk penanganan Pandemi Covid-19 dari keluarga Akidi Tio ini hingga kini belum cair. Hal itu, menjadi sorotan kepolisian dan para tokoh Nasional untuk mengungkap siapa keluarga Akidi Tio.
Menyadur dari SuaraSumsel.id, Wartawan senior Dahlan Iskan bahkan memperkirakan Akidi Tio ialah seangkatan pengusaha Tong Djuo. Orang kaya Tionghoa kaya Palembang biasa berbisnis di Singapura.
Menurut Dahlan Iskan, bagi orang Tionghoa kaya Palembang berbisnis di Singapura bukan barang baru. Ada orang Palembang yang sangat terkenal di Singapura, dan juga di Jakarta, Tong Djou.
"Saya juga kenal baik dengan Tong Djou –sebelum meninggal Februari lalu. Aki adalah pengusaha angkatan Tong Djou. Generasi sekarang tidak kenal nama itu. Tapi di generasi saya, siapa yang tidak tahu Tong Djou: ia pengusaha minyak yang dibesarkan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo," tulis Dahlan Ikan.
Perkiraan Dahlan, Akidi yang telah 12 tahun meninggal punya patner bisnis di Singapura. Selama itu pula, aset tersebut berputar di perusahaan.
Dahlan pun memprakirakan jika Akidi bukan pemegang saham mayoritas di perusahaan sehingga RUPS selalu sah tanpa kehadirannya.
"Tentu undangan RUPS untuk Aki sudah selalu dikirim. Ke alamat Aki yang didaftarkan ke perusahaan. Tentu Aki memakai alamat di Singapura. Entah di alamat mana. Hanya perusahaan itu yang tahu," sambung Dahlan.
"Dua belas tahun itu lama sekali. Saya bisa membayangkan apa saja yang terjadi di perusahaan itu selama 12 tahun. Bisa saja saham Aki sudah hilang atau dihilangkan. Itu mudah. Apalagi kalau lewat hostile," sambung ia.
Baca Juga: 3 Kejanggalan Donasi Rp 2 Triliun Akidi Tio untuk Atasi COVID 19 di Sumsel
Dahlan mengungkap ada orang yang akhirnya memberitahu jika Akidi memiliki aset di perusahaan tersebut.
"Yang kecewa itulah yang memberi tahu anak-anak Aki: "papamu punya harta di Singapura. Perkiraan saya: anak-anak Aki lantas mulai mengurus harta itu. Tapi masalahnya tidak sederhana. Lalu enam anak Aki ''menyerah''. Ruwet. Tidak mau lagi mengurusnya.
Tinggal Heryanti sendiri yang masih bersemangat. Biar pun perlu biaya mahal," sambung ia.
Biaya mengurus aset milik Akidi Tio bukan hal mudah dan murah
"Perkiraan saya: Heryanti kecewa dengan pengacara yang pertama. Lalu kenal pengacara lainnya. Yang memberi harapan lebih besar. Heryanti pun ganti pengacara. Harus diskusi lagi dengan pengacara baru berjam-jam –argometer jalan terus. Saya tidak berani memperkirakan apakah Heryanti juga kecewa dengan pengacara kedua. Sehingga harus mencari pengacara ketiga dan seterusnya," sambung ia.
Kini, Heriyanti tengah sakit. Polip yang ia derita, kambuh dan petugas kesehatan juga mendatangi rumah Heriyanti. Karena polip, Heryanti urung diperiksa.
Polisi kini mengaku masih menyelidiki aliran rekening anak Akidi Tio guna memastikan keberadaan uang donasi Rp 2 triliun tersebut.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
Terkini
-
Pendidikan Asrama Gratis: Siswa Makan 3 Kali Sehari, Punya Tempat Tidur hingga Tumbler
-
Melalui Sekolah Rakyat, Anak Pedagang Cilok di Boyolali Punya Harapan Baru
-
Sekolah Rakyat Selamatkan Anak Yatim Sejak Bayi: Sempat Putus Sekolah, Hobi Tawuran
-
Berkat MBG, Pembudidaya Ikan Semangat Bekerja: Karena Pasti Laku!
-
Anak Orangtua Difabel Peroleh Pendidikan Gratis di Sekolah Rakyat: Dapat Makanan dan Pakaian