Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Sabtu, 17 Juli 2021 | 08:10 WIB
Petugas Inavis Polres Cilegon mengevakuasi buruh yang diduga tewas saat isolasi mandiri di kontrakan, Selasa (13/7/2021). [Suara.com/Adi Mulyadi]

SuaraSurakarta.id - Banyak masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19 yang isolasi mandiri atau isoman di rumah yang meninggal menjadi sorotan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pun meminta jajajarannya di tingkat bawah untuk melakukan pengawasan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Ada memang warga yang sedang isoman di rumah meninggal. Beberapa laporan sudah masuk ke kita," ujar Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, Jumat (16/7/2021).

Ahyani mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat meninggal saat isoman di rumah.

Baca Juga: Selama PPKM Darurat, Pengguna KRL di Jogja-Solo Turun 61 Persen

Salah satunya karena meraka punya komorbit atau penyakit bawaan yang kemudian kambuh.

"Mereka yang isoman di rumah itu dengan gejala ringan. Mereka juga punya komorbit yang membuat kondisinya menurun," ungkap dia.

Ahyani menegaskan, yang gejala ringan ini lah yang belum bisa tertangani.

Memang pasien yang gelaja ringan ini yang diwaspadai, di rumah sakit tidak diterima karena hanya menangani pasien yang berat, di rumah karantina tidak.

"Yang gejala ringan memang belum punya solusi dan harus diwaspadai. Kalau komorbit memang bisa langsung drop," katanya.

Baca Juga: Warung Soto di Sleman Bagikan 1.000 Porsi Soto Perhari ke Warga yang Jalani Isoman

Sebenarnya yang isoman di rumah sudah ada pemantauan. Ini seperti kasus di Banyuanyar ada masyarakat yang isoman di rumah terus sesak nafas, kemudian ada yang lapor ke Puskesmas dan langsung asistensi mengecek kondisi pasien.

Load More