SuaraSurakarta.id - Ratusan warga dan ahli waris mengikuti upacara sadranan di makam kawasan bekas Keraton Kartasura, Minggu (4/4/2021). Upacara ini sebagai media untuk mendoakan arwah para leluhur pada bulan ruwah atau kalau penanggalan hijriah itu sakban menjelang ramadan.
Mereka dengan hikmah dan khusyu mengikuti sadranan ini. Dalam sadranan ini mereka membaca tahlil, zikir, dan doa bersama-sama, setelah itu langsung nyekar ke makam leluhurnya dan menaburkan bunga.
Pada sadranan ini hadir juga putri raja Keraton Kasunanan Surakarta Sinuhun Paku Buwono (PB) XII, GKR Wandasari Koes Moertiyah, KP Eddy Wirabhumi, dan kerabat-kerabat keraton lainnya.
"Sadranan ini upacara kirim doa untuk arwah leluhur. Ini rutin digelar setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan," ujar koordinator pelaksana sadranan di Keraton Kartasura, Bagus Sigit Setiawan saat ditemui disela-sela acara, Minggu (4/4/2021).
Sebelum tradisi sadranan terlebih dahulu dilakukan bersih-bersih makam oleh kelompok masyarakat atau ahli waris. Tradisi sadranan ini juga sebagai upaya untuk mengangkat kembali Keraton Kartasura yang merupakan cikal bakal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat san Kota Solo mengingat kondisinya kurang terawat dan tembok keraton hampir roboh.
"Besar harapan kami ada perhatian lebih untuk merawat sisa-sisa peninggalan Keraton Kartasura ini. Karena selam ini kurang terawat, kami mau membersihkan pun ada hambatan bagaimana tata cara membersihkan situs," terang warga Kartasura ini.
Di bekas Keraton Kartasura ini terdapat salah satu makam kerabat keraton yaitu Nyai Sedah Mirah. Konon, Sedah Mirah merupakan panglima perempuan yang melawan penjajah.
"Ini bisa menjadi lokasi wisata sejarah bagi warga khususnya generasi muda," imbuh dia.
Juru Kunci Hastana Keraton Kartasura, Mas Ngabehi Surya Hastono Hadiprojonagaro mengatakan tradisi sadranan ini sudah mulai digelar sejak 1945. Sejak itu rutin digelar hingga sekarang ini untuk warga.
Baca Juga: Kota Paling Toleran, Beduk Raksasa Siap Semarakkan Ramadan di Singkawang
"Ini sudah digelar turun temurun sejak 1945 dan akan digelar menerus. Sudah dipakai untuk makam sudah cukup lama dan sudah tidak boleh untuk makam pada 2010," papar dia.
Lewat tradisi sadranan ini diharapkan bisa mengangkat dan mengenal Keraton Kartasura. Selama ini lebih dikenal sebagai pemakaman bukan sebagai bekas kerajaan, padahal bisa untuk wisata sejarah.
"Adanya tradisi ini bisa dikenal khususnya anak-anak. Ini juga untuk melestarikan budaya atau nguri-nguri budaya jawab," ucapnya.
Sementara itu kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Wandasari Koes Moertiyah menambahkan tradisi sadranan ini harus dilestarikan dan dimunculkan kembali. Dengan bisa mengembalikan roh sebagai Keraton Kartasura bukan pemakaman.
"Ini warga biar tahu kalau di sini pernah berdiri Keraton Kartasura. Tradisi ini sangat bagus, apalagi perawatan rutin dilakukan, bahkan sekarang sudah ada petugas BPCB yang tugas di sini,' tuturnya.
Gusti mung menegaskan, bagi Keraton Kasunanan Surakarta di sini ada leluhur yakni Nyai Sedah Mirah yang dimakamkan. Ia merupakan ahli politik perempuan pada masa PB III dan menjadi pengageng perintah keputren yang membawahi pemerintahan putri-putri di keraton.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Angka Pengangguran di Kota Solo Lebih Tinggi dari Daerah di Soloraya, Capai 13,5 Ribu Jiwa
-
Ditjen Hubla Kemenhub Digugat ke PTUN Jakarta Terkait Konsesi Alur Mahakam
-
Kejagung Tinjau Masjid Sriwedari Solo yang Mangkrak sejak 2021, Pembangunan Bakal Dilanjutkan?
-
Terungkap Kasus Penimbunan Solar Subsidi Ilegal di Klaten, Omzet Pelaku Rp200 Juta per Bulan
-
Melihat Masa Depan Fintech Indonesia Melalui Karya Pemenang FutureFin AdaKami dan UNS