- Kubu PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo berencana menggelar kirab pusaka 1 Suro pada Selasa, 16 Juni 2026.
- Potensi penyelenggaraan kirab oleh dua kubu secara bersamaan memunculkan kekhawatiran terkait dinamika internal Keraton Kasunanan Surakarta.
- Kementerian Kebudayaan mendorong pelaksanaan kirab tetap dilakukan karena merupakan warisan budaya penting bagi pariwisata dan kekuatan spiritual.
"Harapan beliau kan rukun, rukun dan kompak gitu lo. Kalau kemarin Grebeg Besar itu oke lah digelar dua tanggal, tapi kalau malam 1 suro nggak bisa dua tanggal. Artinya akan bertemu kan kalau masih ada kepentingan personal atau kelompok bertemu di satu tanggal, bertemu di satu malam, bertemu di satu tempat, itukan dinamikanya cukup mengkhawatirkan ya," papar dia.
Pakoenegoro mengaku sudah ada komunikasi dengan kubu PB XIV Purboyo mengenai rencana kirab pusaka 1 suro.
"Sudah, selalu kami komunikasikan termasuk Gusti Tedjowulan juga akan melibatkan gusti-gusti sepuh, putra dan putri dalem PB XII. Karena beliau-beliau ini yang lebih memahami tentang keberadaan dan pusaka-pusaka, kan tidak bisa sembarang orang harus putra putri dalem yang sudah disumpah," jelasnya.
Pakoenegoro menyatakan kalau semua pihak diundang saat rapat dengan kementerian kebudayaan pekan kemarin.
Baca Juga:Viral PB XIV Purboyo Pakai Jarik Motif Parang Terbalik di Acara Halabihalal
Dalam rapat tersebut membahas soal revitalisasi keraton tahap berikutnya, lalu kirab pusaka malam 1 suro. Harapan kemenbud kirab pusaka 1 suro itu diadakan walaupun dinamika keraton masih bergejolak seperti ini.
"Karena kirab pusaka malam 1 suro itu sudah merupakan Warisan Budaya Tak Benda. Itu yang tidak hanya menjadi potensi pariwisata tapi juga menjadi kekuatan spiritual dari keraton, sehingga perlu tetap dilaksanakan," tandas dia.
Pakoenegoro menambahkan yang paling penting dalam kirab malam 1 suro itu adalah pusakanya. Pusaka yang akan dikirab itu Pusaka-Pusaka Kagungan dalem yang golongan atau kategori Kangjeng Kyai Ageng atau Pusaka-Pusaka Pokok atau Utama yang sangat penting bagi keberlangsungan Tanah Jawa dan masyarakatnya.
Kontributor : Ari Welianto
Baca Juga:Duh! Atap di Pintu Gapit Kulon Keraton Solo Ambrol, Ditemukan Ada Tembok yang Retak