Karena itu, Kiai Sala dan Ki Gede Sala sebenarnya hidup di zaman yang berbeda. Jika diceritakan Ki Sala hidup pada masa keraton Pajang, yakni pada akhir abad 16, maka jaraknya dengan Ki Gede Sala hidup adalah 100 tahun.
Ki Gede Sala pada waktu itu kemudian diangkat sebagai birokrat kerajaan. Karena itu, Ki Gede Sala ditugaskan ke wilayah Kerajaan Surakarta dan ditransmigrasikan. Artinya, Ki Gede Sala diperintahkan ke wilayah kekuasaan kerajaan yang lain. Keraton tidak memiliki catatan di mana Ki Gede Sala dimakamkan.
Sementara itu, nama Sala sendiri diambil lantaran wilayah tersebut banyak ditumbuhi tanaman sala, sejenis pohon pinus sebelum akhirnya didirikan kerajaan Surakarta. Hal itu tertulis di Serat Babad Sengkala.
Dari Sala Berubah Menjadi Solo
Baca Juga:Kilas Balik Ternchem: Band Rock Pertama Indonesia Asal Solo yang Seangkatan The Beatles
Pelafalan Sala menjadi Solo terjadi saat kedatangan Belanda. Mereka melafalkan huruf ‘a’ menjadi ‘o’ sebagaimana umumnya. Penyebutan tersebut kemudian menjadi populer hingga saat ini.
Meskipun penyebutan Surakarta telah menjadi nama resmi secara administratif, akan tetapi penyebutan Solo atau Sala masih menjadi nama yang populer digunakan oleh masyarakat umum.
Adapun, Solo dulu hanyalah sebuah desa terpencil yang berjarak sekitar 10 km di sebelah timur Surakarta, pusat kerajaan Mataram pada kala itu. Berubah nama menjadi Surakarta setelah perpindahan kerajaan Surakarta ke desa Sala pada tahun 1745.
Karena itu, hingga saat ini Desa Sala diubah menjadi pusat kerajaan dengan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan pertimbangan Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan J.A.B Van Hohendorff.
Kontributor : Dinnatul Lailiyah
Baca Juga:Bakal Pilih Cuti atau Mundur Selama Pilpres 2024, Gibran Buka Suara