"Jadi selama ini saya nunut listrik dari Tetangga secara langsung memang tidak ada belum ada aliran listrik sendiri untuk di makam ini jadi kalau malam gitu ya gelap cuman ada satu buah penerangan bulan itu pun nunut tetangga listriknya," papar Adi.
Tak Ada Bantuan
Sementara Adi yang kesehariannya bekerja serabutan ini juga mengungkapkan bahwa tidak ada bantuan biaya untuk merawat cagar budaya dari pemerintah terkait.
"Ya selama ini kalau hanya sekedar mengecat tembok pernah kita lakukan dengan biaya swadaya dari pengunjung makam. Tapi kalau bangunan fisik lainnya kita tidak ada biaya untuk melakukan itu. Selama ini kita hanya sebatas membersihkan, merapikan, seperti itu," ungkapnya.
Baca Juga:Ditanya Nitizen di Solo Boleh Bangun Gereja? Begini Jawaban Bijak Gibran Rakabuming
Adi juga menjelaskan bahwa selama ini tidak ada bantuan untuk biaya perawatan pada cagar budaya makam pendiri Desa Solo atau kota Solo itu setiap tahun atau bulan.
Dirinya menyayangkan pemerintah terkait tidak adanya perhatian mengingat makam ini sudah ditetapkan cagar budaya.
"Segala upaya sudah beberapa kali kita lakukan untuk meminta bantuan atau perhatian dari pemerintah terkait, baik dari tingkat Kelurahan ataupun kedinasan. Namun hingga kini juga belum ada tindakan upaya dari pemerintah terkait," paparnya.
Kontributor : Budi Kusumo