Sementara itu Lurah Mojo, Nurochman menambahkan jika data penerima kompor listrik hasil survey dari PLN yang menggandeng LPPM UNS.
Data awal memang campuran ada yang dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) ada yang diluar itu. Pada perkembangannya ada seleksi penerima.
"Terakhir hasil survey ada sekitar 121 penerima, tapi ada tambahan 60 lebih. Total sekarang yang menerima itu sekitar 174 penerima," terangnya.
Selama penggunakan kompor listrik sejauh ini belum ada laporan dari warga. Karena ini suatu proses konversi pasti ada konsekuensinya.
Baca Juga:Pro Kontra Konversi Kompor Listrik: Gak Cocok Buat Masakan Indonesia?
"Mereka yang merasakan memang ada plus minusnya. Kami sebagai pelaksana tidak bisa mengkritisi sebuah kebijakan," tegasnya.
Kontributor : Ari Welianto