"Kalau CFD biasanya di daerah Purwosari. Tapi tadi pengen cari suasana di sekitar Sriwedari, ternyata ramai juga," sambung warga Sukoharjo ini.
Hal senada disampaikan pengunjung CFD lain, Nurul yang ternyata di Loji Gandrung ramai juga pas CFD hari minggu.
"Enak buat istirahat setelah jalan-jalan di CFD. Istirahat di sini sambil makan jajanan," imbuhnya.
Diakuinya, bagus juga bangunanya masih asli dan cukup luas. Karena memang bangunan peninggalan Belanda masih kuat dan masih bertahan sampai sekarang.
Baca Juga:Persis Solo vs Persita Tangerang Nanti Sore: Menanti Magis Duo Rekrutan Anyar
"Sayang tidak bisa masuk ke dalam, cuma bisa lihat dari pintu saja. Bagus sekali dan masih kuat," ucap dia,
Sementara itu Wali Kota Solo GIbran Rakabuming Raka mengatakan jika Loji Gandrung terbuka untuk umum. Masyarakat boleh mengadakan kegiatan di Loji Gandrung.
"Bisa jadi tempat pertemuan, tempat kegiatan warga atau acara keagamaan, silahkan saja," tersangka.
Sejauh itu sudah banyak masyarakat yang menyelenggarakan acara di Loji Gandrung. Itu tidak ada biasa juga yang dibebankan masyarakat. "Nggak bayar. Malah kami sediakan makan juga," ungkapnya.
Seperti diketahui, jika Loji Gandrung merupakan bangunan yang memiliki perpaduan Eropa dan Jawa. Awalnya Loji Gandrung rumah tinggal Johannes Augustinus Dezentje (1897-1839) yang dibangun
pada 1830.
Baca Juga:Persis Solo vs Persita: Laskar Sambernyawa Bertekad Raih Kemenangan Perdana di BRI Liga 1 2022/2023
Johannes Augustinus Dezentje merupakan seorang pioner perkebunan Belanda pertama di wilayah Surakarta dan dikenal sebagai tuan tanah di Ampel, Boyolali (de legendarisch solose planter en landheer van Ampel).