Masih Menyebar di Masyarakat, Pakar Jelaskan Komponen COVID-19 Varian Omicron dan Subvariannya

COVID-19 varian Omicron masih menjadi momok tersendiri di masyarakat. Apalagi varian terbaru itu kini memiliki sub varian yang tengah menyebar di masyarakat dunia

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 07 April 2022 | 08:48 WIB
Masih Menyebar di Masyarakat, Pakar Jelaskan Komponen COVID-19 Varian Omicron dan Subvariannya
Ilustrasi gambar. COVID-19 varian Omicron masih menjadi momok tersendiri di masyarakat. Apalagi varian terbaru itu kini memiliki sub varian yang tengah menyebar di masyarakat dunia. (pixabay)

SuaraSurakarta.id - COVID-19 varian Omicron masih menjadi momok tersendiri di masyarakat. Apalagi varian terbaru itu kini memiliki sub varian yang tengah menyebar di masyarakat dunia. 

Dokter spesialis penyakit dalam dr. RA. Adaninggar PN, Sp.PD, mengatakan bahwa tidak pernah ada dua varian yang sama-sama dominan di suatu tempat atau di suatu negara.

dr. Ning menjelaskan bahwa varian yang lebih cepat menular akan mendominasi di suatu daerah atau negara dan ini terjadi pada Omicron. Saat ini, di seluruh dunia termasuk di Indonesia sudah didominasi oleh Omicron.

Berdasarkan hasil dari Genome Sequencing, Omicron sudah mendominasi kasus penyebaran, dengan 96 persen, sedangkan sisanya yang 4 persen adalah varian lain.

Baca Juga:Tips Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Ini 3 Hal yang Harus Persiapkan

Untuk gejalanya sendiri, berdasarkan kasus yang dihadapi dr. Ning sehari-hari, sebenarnya tidak ada yang bisa membedakannya. Baik varian Delta maupun Omicron dapat menyebabkan anosmia, hanya saja tidak sebanyak yang dialami penderita Delta.

Untuk Omicron, gejala umum yang dialami adalah infeksi saluran pernapasan atas seperti sakit tenggorokan dan batuk pilek. Sementara itu, mereka yang dirawat di rumah sakit akibat Omicron tetap mengalami gejala yang sama seperti pasien dengan varian sebelumnya, yakni badai sitokin dan pneumonia.

"Oleh karena itu, apa pun variannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa varian ini tidak lebih berbahaya dari Delta," ujar dr. Ning dikutip dari ANTARA pada Kamis (7/4/2022).

dr. Ning juga menjelaskan perihal subvarian Omicron yang disebut sebagai Siluman (BA.2 atau Son of Omicron). Menurutnya, virus akan terus bermutasi membentuk varian dan varian juga akan membentuk subvarian.

Hal tersebut dianggap biasa karena ini merupakan sifat alami dari virus. Seperti varian Delta yang juga memiliki puluhan subvarian. Subvarian Siluman (BA.2) cukup menghebohkan karena di beberapa negara yang kasus Omicronnya sudah lebih dulu tinggi, menduga bahwa BA.2 menjadi salah satu penyebab yang menghambat penurunan kasus.

Baca Juga:Meski Muncul Subvarian Omicron, Pakar Sebut Covid-19 di Indonesia Mulai Terkendali

Dari beberapa penelitian terbukti bahwa BA.2 bersifat dua setengah kali lipat lebih menular dibandingkan BA.1. Namun, secara penelitian di laboratorium, tingkat keparahan akibat subvarian BA.2 ini mirip Delta, jadi lebih banyak di paru-paru daripada di saluran pernapasan atas seperti BA.1.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini