SuaraSurakarta.id - Kawasan Silir yang berada di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo dulu terkenal sebagai tempat lokalisasi pekerja seks komersial (PSK).
Banyak orang-orang dari luar kota yang datang ke kawasan Silir. Stigma negatif melekat selama puluhan tahun bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Silir.
Kalau menyebut dan mendengar kawasan Silir pasti pikirannya langsung tertuju pada lokalisasi.
Kini kawasan Silir telah berubah dan menjadi salah satu kawasan perekonomian di Kota Solo. Pada masa pemerintahan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) kawasan lokalisasi Silir ditutup.
Baca Juga:Telah Lewati Gelombang Kedua Covid-19, Tahun Ini Ekonomi Indonesia Diprediksi Mulai Rebound
"Kawasan Silir itu dulu memang menjadi kawasan lokalisasi. Dulu Kawasan Silir itu masuknya Kelurahan Semanggi, setelah pemekaran masuk Kelurahan Mojo," ujar Tokoh Masyarakat Kelurahan Mojo, Ekya Sih Hanto, Rabu (9/2/2022).
Menurutnya, semua orang pasti tahu kawasan Silir itu dulu sebagai lokalisasi. Kawasan Silir ini sudah terkenal daerah-daerah di luar Kota Solo.
Keberadaan lokalisasi Silir itu sudah ada cukup lama dan mungkin sudah turun temurun.
"Jadi lokalisasi Silir sudah lama sekali, saya belum lahir saja sudah ada. Pastinya sejak kapan saya kurang tahu persis," katanya.
Dulu itu yang berada di lokalisasi Silir kebanyakan dari luar Solo, kemudian lama-lama menetap di sini. Kalau dari
wilayah Solo ada tapi tidak begitu banyak.
Baca Juga:Sandiaga Uno Dinilai Punya Peluang Maju di Pilpres 2024, Asalkan Penuhi Hal Ini
Kawasan Silir itu dulunya hanya satu RT, di RT 1 RW 7 Semanggi. Lokasinya itu luas mulai yang sekarang menjadi RSUD Bung Karno, kemudian sekarang Masjid MUI sampai tanggul Sungai Bengawan Solo sebelah barat.