Kisah Sofah, Satu-satunya Perempuan Perajin Cobek yang Tersisa di Desanya

Cobek diminati konsumen jelang Maulid Nabi karena memiliki kekhasan yang terletak pada bagian bibir terdapat ukiran dengan motif Maulid.

Siswanto
Kamis, 14 Oktober 2021 | 14:45 WIB
Kisah Sofah, Satu-satunya Perempuan Perajin Cobek yang Tersisa di Desanya
Cobek [Beritajatim]

Menjelang Maulid Nabi, harga yang ditetapkan Sofah tetap tidak mahal untuk ukuran zaman sekarang. Satu cobek harga ecerannya Rp2.000, tetapi kalau membeli secara borongan, menjadi lebih murah yaitu Rp1.700.

Turun temurun

Usaha membuat cobek yang ditekuni perempuan berusia 52 tahun itu merupakan usaha turun temurun.

Keterampilan tersebut didapatkan Sofah dari memperhatikan aktivitas anggota keluarganya yang sudah lebih dulu praktik.

Baca Juga:Wisata Lesu,Wastafeluntuk Cuci Tangan Selamatkan Ekonomi Perajin Gerabah Klipoh Magelang

Dia mulai berminat ketika menyaksikan mertua berjibaku dengan tanah untuk membuat cobek. 

"Dulu pas saya masih usia 18 tahun. Masih punya anak satu. Kebetulan ibu mertua kok bikin cobek. Saya lihat kok seneng ya, bisa mutar-mutar dan ngasih kembangan (bisa memutar-mutar dan memberi corak bunga), ya sudah saya langsung belajar," kata dia.

Untuk menghasilkan cobek yang baik, meskipun barang ini terlihat sederhana, membutuhkan perasaan.

Dari pengalaman Sofah, membuat cobek ketika sedang banyak pikiran, hasilnya biasanya buruk.

"Bisa pletot-pletot kalau buat cobek dengan marah-marah, pusing atau lagi stres. Tapi kalau dibuat dengan gembira, sehari bisa banyak cobek yang saya buat," kata dia.

Baca Juga:Sandiaga Uno Ingat Film Ghost Saat Kunjungi Desa Gerabah di Magelang

Dulu, dalam sehari, Sofah bisa memproduksi antara 100-150 cobek dalam berbagai ukuran tiap hari.

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak