Mitos Hajatan di Bulan Suro Bisa Timbulkan Malapetaka, Ini Menurut Pandangan Islam

Orang Jawa pasti tidak akan berani menggelar hajatan di bulan suro, sebab diyakini bisa bikin sial

Budi Arista Romadhoni
Senin, 09 Agustus 2021 | 16:01 WIB
Mitos Hajatan di Bulan Suro Bisa Timbulkan Malapetaka, Ini Menurut Pandangan Islam
Ilustrasi pernikahan adat jawa. Orang Jawa pasti tidak akan berani menggelar hajatan di bulan sura, sebab diyakini bisa bikin sial. [Dok Suara.com]
Suasana penyenggaraan Jakarta Muharram Festival di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (31/8). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar]
Suasana penyenggaraan Jakarta Muharram Festival di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (31/8). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar]

Ia berpendapat Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam.

“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar; antara Jumadi tsaniah dan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Muharram juga dipercaya merupakan bulannya Allah. “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram”. (HR. Muslim 1163)

Sehingga dari beberapa hadis di atas, Ustaz Ahmad Anshori menegaskan larangan menikah di bulan Suro menurut Islam adalah tidak benar.

Baca Juga:Jelang 1 Muharram 1443 H, Ini Bacaan Latin Doa Akhir Tahun Hijriah

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini