Budi Arista Romadhoni
Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:34 WIB
Suasana di kawasan Tugu Lilin, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Selasa (27/10/2026) malam
Baca 10 detik
  • Gerakan Solusi Indonesia mengadakan malam refleksi 100 Tahun Sumpah Pemuda di Tugu Lilin Solo, Selasa (27/10/2026) malam.
  • Ratusan pemuda dan pejabat daerah mengikuti acara seni budaya yang ditandai penyalaan lilin serta pembacaan teks Sumpah Pemuda bersama.
  • Kegiatan ini bertujuan menyatukan pemuda untuk merawat persatuan bangsa melalui pertunjukan seni, pembacaan puisi, dan ritual kebudayaan.

SuaraSurakarta.id - Cahaya temaram dari pendar lilin menghangatkan suasana dingin di kawasan Tugu Lilin, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Selasa (27/10/2026) malam.

‎Malam refleksi menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda yang digagas oleh Gerakan Solusi Indonesia (GSI) tersebut berlangsung khidmat sekaligus sarat makna.

‎Jauh dari kesan kaku tanpa deretan pidato formal, helatan malam itu justru dikemas anggun layaknya panggung pementasan seni.

‎Ratusan pemuda-pemudi tampak memadati lokasi dengan penuh antusias, mulai organisasi kepemudaan seperti Cipayung Plus, HMI Jateng dan Solo, mahasiswa FH UNS, UIN, UMS, BEM berbagai kampus, OSIS-Pramuka SMA/SMK, Pasoepati, KNPI, IMM, karang taruna, IPM, LDII, hingga GP Ansor.

‎Usai untaian Sekapur Sirih dari Ketua Dewan GSI, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi, ritual pembukaan ditandai secara simbolis lewat penyalaan lilin bersama Wali Kota Solo, Respati Ardi, dan perwakilan pemuda.

‎Nyala api lilin tersebut menjadi lambang cahaya harapan serta penerang persatuan yang akan terus dijaga oleh generasi penerus.

‎"Kita berkumpul di sini untuk menyatukan mimpi, pertanyaan, dan tindakan," tutur Prof. Puji yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kejaksaan Republik Indonesia.

‎Ia menekankan pentingnya kesadaran serta sikap saling menghargai perbedaan, layaknya anggota tubuh yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing.

‎"Ketika mulut menghargai pikiran, telinga menghargai kaki, maka penghargaan itulah yang jadi hakikat pemuda," lanjutnya.

Baca Juga: Saksi Hidup G30S Bongkar Peran Karno Gejik, Eksekutor PKI yang Catat Daftar Nama Warga untuk Dibunuh

‎Suasana malam kian menggelegar saat para penari dari Wasi Arts Factory & Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang dipimpin oleh Dr. Matheus Wasi Bantolo, S.Sn., M.Sn naik ke atas panggung menyajikan tarian Nembang Mbekso.

‎Estafet seni berlanjut lewat lantunan geguritan puitis bernuansa Jawa yang dibawakan Co-Founder GSI, Anas Syahirul.

‎Mengusung tema Gegap Gempita Semangat Pemuda, bacaan puisi tradisional tersebut meletupkan pesan tentang keberanian, keberanian, dan tanggung jawab generasi muda dalam merawat persatuan bangsa.

‎Keindahan narasi puitis kian terasa ketika Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, maju membacakan puisi kebangsaan bertajuk Di Tangan Pemuda, Indonesia Menyala.

‎Lewat racikan bahasa sastra yang menyentuh jiwa, pembacaan puisi tersebut berhasil membangkitkan asa dan cita-cita pemuda sebagai penopang masa depan negeri.

‎Sisi tradisi makin kentara lewat penampilan Pocapan Ada-Ada Dhalang oleh Kajari Surakarta, Dr. Supriyanto, S.H., M.H.

Load More