Budi Arista Romadhoni
Senin, 04 Mei 2026 | 17:05 WIB
Suasana pelayat saat melayat istri pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki Sukoharjo, Ustad Abu Bakar Ba'asyir, Aisyah binti Abdul Rahman Baraja (Umi Ichun). [Suara.com/Ari Welianto]
Baca 10 detik
  • Aisyah binti Abdul Rahman Baraja, istri Ustad Abu Bakar Ba'asyir, meninggal dunia di Sukoharjo pada Senin, 4 Mei 2026.
  • Almarhumah wafat akibat komplikasi penyakit diabetes, paru-paru, dan jantung yang dideritanya selama tiga puluh tahun terakhir ini.
  • Pihak keluarga menyatakan almarhumah tutup usia saat hendak dibawa menuju rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan.

SuaraSurakarta.id - Istri pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki Sukoharjo, Ustad Abu Bakar Ba'asyir, Aisyah binti Abdul Rahman Baraja (Umi Ichun) meninggal dunia, Senin (4/5/2026).

Umi Ichun meninggal karena penyakit komplikasi yang dideritanya sejak lama. Awalnya gula kemudian menjalar ke paru-paru dan jantung.

"Meninggal tadi pagi sekitar 09.20 WIB. Ibu itu memang sudah lama punya penyakit komplikasi, gula kemudian ke paru-paru dan jantung. Beliau belum lama juga menjalani operasi kaki," terangnya Putra almarhumah, Abdul Rochim Ba'asyir saat ditemui, Senin (4/5/2026).

Menurutnya dengan proses itu dan semakin lama kondisinya memang agak memburuk di pernafasannya, paru-parunya. Tadi pagi itu setelah sarapan, rencananya memang mau dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

"Qodratullah, ketika dipindahkan dari tempat tidur rumah ke ambulance itu beliau sudah wafat. Lalu kami bawa ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya, setelah dipastikan oleh dokter di RS Kustati sudah dipastikan meninggal," ungkapnya.

Iim mengatakan kalau penyakit gulanya itu sudah 30 tahun lalu. Kalau kondisi agak beratnya itu sudah 6-8 bulan terakhir ini. 

"Jadi kondisinya menurun, harus penanganan serius dengan pemotongan di bagian kaki atau amputasi. Istilahnya itu diabetes basah muncul luka, mungkin dari luka itu merembet ke bagian kaki sehingga terpaksa harus diamputasi," kata dia.

"Amputasinya itu sekitar 4 bulan lalu. Itu 2 bulan sebelumnya lah kondisinya semakin menurun," ucapnya.

Iim menyebut dirinya tadi sempat bangun untuk menengok umi (Ibu), karena memang kondisi nafasnya agak tersengal-sengal. Lalu tak tenangkan badannya dan sempat dilap.

Baca Juga: Momen Langka! Jokowi Cium Tangan Abu Bakar Ba'asyir di Kediamannya di Solo

"Umi sempat bilang 'saya pasrah apapun takdirnya Allah, 'saya pasrah apapun itu yang sudah ditentukan Allah SWT kepada saya, saya ridho dengan apapun itu'. Saya cuma bisa nanggapi umi yang sabar, umi banyak istigfar, banyak untuk membaca hafalan dan sebagainya dan beliau membaca itu," jelasnya.

Iim mengaku menjelang subuh istirahat sebentar dan beliau lalu salat. Kemudian dibersihkan tubuhnya, sekitar jam 6, jam 7 itu sarapan dan mempersiapkan periksa ke rumah sakit. 

Banyak kenangan bersama uminya, beliau adalah seorang pendidik punya peran yang besar terhadap keluarga khususnya anak-anak. 

"Mendisiplinkan kami karena masih kecil dan peran beliau ketika Ustad Abu Bakar Ba'asyir dipenjara. Ketika kami masih kecil dan Ustad Abu Bakar dipenjara, kami bersandarnya sama beliau," papar dia.

"Saya tidak pernah mengeluh atas perjuangannya tapi terus melakukan memperbanyak amal, dzikir, membaca tilawatil quran hingga wiridnya setiap hari dari pagi sampai sore tidak berhenti," lanjutnya.

Iim menambahkan memang akhir-akhir ini sebelum khusunya kondisinya agak menurun parah sekitar 6 bulan lalu.

Load More