- KGPH Benowo, adik mendiang PB XIII lahir 4 September 1957, dikenal sebagai figur sentral dan dalang kondang pendiri Paguyuban Dhalang Surakarta (Padhasuka).
- Beliau bersikap bijaksana dalam suksesi takhta pasca wafat PB XIII, mendukung penobatan Gusti Purbaya sebagai PB XIV berdasarkan tradisi keraton.
- KGPH Benowo baru saja menerima kenaikan pangkat menjadi KGPA Panembahan Benowo, mengukuhkan perannya sebagai pangeran senior dan pemikir keraton.
SuaraSurakarta.id - Di tengah dinamika suksesi takhta Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, nama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Benowo mencuat sebagai salah satu figur sentral yang disegani.
Adik kandung dari mendiang Sri Susuhunan Pakubuwana (PB) XIII ini tidak hanya dikenal sebagai seorang pangeran, tetapi juga sebagai dalang kondang yang memiliki pandangan bijaksana.
Lahir di Keraton Solo pada 4 September 1957 dengan nama kecil Gusti Raden Mas (GRM) Surya Bandrio, KGPH Benowo merupakan putra dari PB XII dengan Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Pradapaningrum.
Ia adalah adik seayah dan seibu dari PB XIII, menempatkannya dalam lingkar terdalam keluarga inti keraton.
Namun, pesona KGPH Benowo tidak hanya terbatas pada garis keturunannya. Ia adalah seorang maestro seni pedalangan yang begitu dihormati.
Kecintaannya pada wayang kulit diejawantahkan melalui perannya sebagai Ketua Paguyuban Dhalang Surakarta (Padhasuka), sebuah organisasi yang ia prakarsai bersama dalang-dalang legendaris seperti Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto.
Melalui kelihaiannya memainkan wayang, KGPH Benowo dikenal mampu menyampaikan cerita dengan bahasa yang mudah dipahami, bahkan oleh generasi muda, kerap kali diselingi humor segar yang membuat pertunjukan hidup.
Kemampuannya ini menjadikan wayang kulit tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan yang relevan dengan zaman. Ia kerap tampil dalam berbagai acara budaya, termasuk pagelaran rutin di lingkungan keraton untuk menjaga kelestarian ajaran leluhur.
Sikap bijaksananya tergambar jelas di tengah polemik suksesi pasca wafatnya PB XIII.
Baca Juga: Momen Sejarah! 3 Janji Agung Pakubuwono XIV Purboyo Saat Dinobatkan di Watu Gilang
Saat terjadi dualisme klaim takhta, KGPH Benowo menjadi salah satu kerabat senior yang hadir dan memberikan dukungan penuh pada penobatan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya sebagai PB XIV.
Baginya, suksesi raja bukanlah soal siapa yang lebih tua, melainkan hak prerogatif dari raja sebelumnya yang berkuasa. Pandangannya ini didasarkan pada tradisi dan sejarah panjang Keraton Mataram.
“Dari dulu pasti ada cocok tidak cocok, ada tandingan, apalagi kalau merasa lebih tua. Lebih tua bukan berarti harus menjadi raja. Contoh, bapak saya [PB XII] bukan yang tertua, PB X juga bukan yang tertua [dari anak-anak PB IX]. Terserah bapaknya, siapa yang dipilih. Kenapa yang dipilih itu urusan saya [ayah: raja sebelumnya] dengan Tuhan,” jelas Benowo.
Ia menekankan bahwa legitimasi seorang raja ditentukan oleh tradisi, seperti sumpah di hadapan Watu Gilang, bukan sekadar pengakuan atau surat keputusan dari lembaga pemerintahan.
Lebih dari itu, Benowo juga menyoroti tantangan praktis seorang raja di masa depan, yakni harus memiliki kemampuan finansial untuk merawat dan memelihara keraton yang begitu besar.
Atas dedikasi dan perannya yang krusial, KGPH Benowo baru-baru ini mendapat kenaikan pangkat dan gelar menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Panembahan Benowo dari PB XIV Purboyo, semakin mengukuhkan posisinya sebagai sosok pangeran, seniman, sekaligus pemikir yang bijak di lingkungan Keraton Surakarta.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Budaya Antikorupsi Diperkuat, BRI Gelar PELOPOR 2026 Bersama KPK
-
METRO Modest Fashion Week 2026 Digelar di Solo, Syariah Card Melonjak 95 Persen
-
Persis Solo Tumbang di Manahan, Ricky Nelson: Saya Pribadi Bertanggung Jawab
-
Kobarkan Semangat Merah Putih, BRI Dukung Perjuangan Atlet Indonesia di Asian Games 2026
-
Pastikan Pelayanan Siap, Wali Kota Solo Cek Persiapan Haul Solo