SuaraSurakarta.id - Masjid Darussalam yang berada di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan merupakan salah satu masjid kuno di Kota Solo.
Masjid Darussalam tersebut memiliki sejarah panjang. Keberadaannya tidak lepas dari perantauan warga Banjar, Martapura, Kalimantan Selatan ke Kota Solo.
Warga Banjar sudah merantau ke Solo mulai sekitar 1890 an sebagai saudara permata. Karena daerah Banjar, Martapura, Kalimantan Selatan merupakan penghasil batu mulia
"Nenek moyang kita, abah-abah kita, itu datang ke Solo ini pada 1890 an. Dalam perkembangan terus bertambah dan turun temurun hingga sekarang," ujar Ketua Takmir Masjid Darussalam Jayengan, Rosyidi Muhdhor saat ditemui, kemarin.
Sebelum sebagai masjid, awalnya sebuah mushola (langgar) bernama Langgar Jayengan Darussalam.
Selama berada dan tinggal di Solo, kemudian bisa membeli tanah untuk dijadikan tempat ibadah seharga Rp 500,.
"Tanah yang dibeli itu akhirnya dibangun Langgar Jayengan Darussalam. Berdiri sebagai masjid itu baru tahun 1965," terang salah satu keturunan warga Banjar ini.
Mulai dibangun langgar itu pada tahun 1910 dan selesai 1911.
Selama di Solo hubungan warga Banjar yang merupakan saudagar dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat cukup baik.
Baca Juga: Dua Tahun Mandek, Tradisi Bubur Banjar Samin di Masjid Darussalam Solo Akhirnya Kembali Digelar
Tidak hanya dengan keraton, tapi juga dengan warga China dan Arab yang ada di Solo waktu itu.
"Dulu saudagar dari Banjar punya hubungan yang luas dengan keraton, China, dan Arab. Sehingga bisa berdiri sebuah masjid," katanya.
Lama kelamaan, warga Banjar banyak yang beranak pinak di Solo. Mereka merasa betah di Solo tidak pulang ke daerah asal tapi menetap di Solo dan menikah dengan warga Solo.
"Mereka tersebar tidak hanya di Solo, ada di Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, Sragen Semarang, hingga Tulung Agung. Mereka itu keturunan warga Banjar yang awalnya merantau di Solo," jelas dia.
Diceritakan, dulu warga perantau dan keturunan Banjar sering mengadakan buka puasa saat bulan Ramadhan.
Menu yang disajikan khas Banjar, salah satunya Bubur Samin. Lama kelamaan disepakati bersama yang dijadikan tradisi saat bulan puasa hingga sekarang adalah bubur samin
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Grace Natalie Pamer Kaos Jokowi Berjaket PSI, Isyarat Gabung Makin Kuat
-
Jokowi Ulang Tahun ke-65, Warga Geruduk Kediaman Pribadi di Sumber Solo
-
Bulog Surakarta Optimistis Target Penyerapan Beras Tercapai Sebelum Akhir Tahun
-
Viral Peserta Pria Pakai Kebaya di Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran Surakarta
-
Dua Residivis Curanmor Ditangkap Polresta Solo, Gasak Motor dan Ponsel Warga yang Tertidur