Esok harinya, Dia mendapat kabar kalau keponakannya meninggal. Dapat informasi juga jika setelah aksi semalam yang mau pulang dicegat di berbagai lokasi.
Lalu dibawa ke Kedung Kopi daerah pinggiran Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres dan semuanya disiksa serta dibunuh.
"Yang dibawa itu sudah meninggal semua di Kedung Kopi, termasuk keponakan saya. Di sana itu dihajar hingga rusak badanya, keponakan saya ditusuk di leher hingga tembus. Total yang dibawa itu ada 23 orang, 22 orang dari dan satu orang Klaten," ucapnya.
Selanjutnya mereka yang meninggal dibawa ke rumah sakit dan diambil serta diserahkan ke keluarganya.
"Sejak peristiwa itu Solo dikuasai oleh orang-orang nasionalis dan agamis. Gantian kita yang operasi orang-orang PKI, setiap malam kita mencari itu peduli kenal yang ditangkap," paparnya.
Dia juga ingat harus menunjukan tetangga di belakang rumahnya yang orang PKI. Mereka dibawa oleh aparat, tidak tahu nasibnya seperti apa setelah ditangkap.
"Ada juga yang sempat dibawa dulu ke Balai Muhammadiyah. Di sana diminta, ayo baca syahadat tidak bisa, ayo baca bismillah tidak bisa juga," ujar Usman.
Diceritakan, sebelum peristiwa itu tersebut kondisi Kota Solo memang mencekam. Itu berlangsung mulai 1-22 Oktober 1965, atau setelah pembunuhan para jenderal pada 30 September 1965.
Waktu itu warga non PKI dari nasionalis dan agamis menjadi satu saling menjaga. Dulu tiap malam makannya nasi bungkus, ada dapur umum yang menyediakan.
Baca Juga: Kisah dr Djelantik Menolak Serahkan Pasien Simpatisan PKI ke Pasukan Tameng
"Tiap malam kita tidak berani tidur di rumah tapi berjaga-jaga dan jalan-jalan kampung ditutup. Di Solo itu memang PKInya kuat sekali," tuturnya.
Tidak ada teror fisik, hanya teror mental saja, Tapi warga dan para pemuda tetap waspada. Sebenarnya sebelum meletus Gerakan 30 S PKI, Solo sudah dikuasai.
Sempat ada aparat yang berkeliling dan menjumpai warga serta pemuda yang berjaga. Aparat meminta pulang dan kembali ke rumah, karena masalah itu merupakan urusan internal TNI.
"Sudah, masuk ke rumah masing-masing tidak usah kumpul-kumpul. Ini urusan internal Angkatan Darat, masuk ke rumah saja," tuturnya.
Dulu itu mendengar berita ada Dewan Revolusi pada, 30 September 1965. Waktu itu, dia baru mengikuti pelatihan kader dari Pemuda Muhammadiyah di Banyuagung, Mojosongo.
"Awalnya belum tahu apa itu Dewan Revolusi. Kita tahu malamnya, jika itu gerakan membunuh para jenderal. Paginya baru tahu jika gerakannya itu dari PKI dan sejak itu Solo mencekam sekali," tandas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Momentum Bulan Inklusi Keuangan, BRILink Agen Hadirkan Akses Keuangan hingga Pelosok
-
Andi Azwan Tegaskan, Gibran Segera Tunjukkan Ijazah Setara SMA
-
MotoGP Mandalika 2026 Jadi Peluang BRI Perkuat Ekonomi Lokal dan Pariwisata Olahraga
-
Persis Solo Mandul di Manahan, De Red FC Pulang Bawa Satu Poin
-
BRI Perkokoh Reputasi Nasional, Nilai Merek Capai USD6,9 Miliar Versi Brand Finance