Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Sabtu, 11 September 2021 | 14:59 WIB
Puma Slingshot Solo Club (PSSC) saat berlatih di kawasan Stadion Manahan Solo. [Suara.com/Ari Welianto]

"Kalau di Solo kita adopsi sesuai yang ada di asosiasi dunia. Ini olahraga target, ini bukan ajang untuk berburu atau disalahkan gunakan buat kegiatan-kegiatan negatif," terang dia. 

Menurutnya, komunitas ketapel ini dibentuk karena nostalgia ke jaman dulu.Ternyata banyak yang suka, ada yang benar-benar sedang nostalgia karena dulu suka main ketapel. 

"Yang gabung komunitas ini hobinya macam-macam. Kebanyakan itu pada nostalgia dan terus berlatih. Komunitas ini dibentuk tahun 2019 lalu," sambungnya.    

Sementara itu Humas PSSC, Anto mengatakan untuk latihan rutin dilakukan di SDN 2  Mangkuyudan atau dekat Pondok Pesantren Ta'mirul Islam.

Baca Juga: Ikan Belida Jadi Maskot Festival Olahraga Rekreasi, Pesan Melestarikan Satwa

Di Solo ada dua klub ketapel. Selain PSSC, ada di daerah Jajar, Laweyan yang namanya Jajar Slingshot Club (JSC).

"Memang belum eksis di masyarakat. Tapi di media sosial sudah banyak klub-klub ketapel baik di Indonesia maupun Luar Negeri. Karena kebanyakan masyarakat awam tahunya ketapel itu cuma cawang ranting, padahal sekarang sudah modern," papar dia.  

Anton menambahkan, ini sudah ada kompetisinya di tingkat dunia satu tahun sekali digelar. Kalau di Indonesia masing-masing klub mengadakan kompetisi, di Solo di sudah kali digelar kompetisi dengan peserta dari luar daerah.

"Kompetisinya biasanya memakai sistem gugur, nanti poin terbanyak maju ke babak selanjutnya. Poin maksimal itu 15," tandasnya. 

Untuk mengenalkan permainan ketapel agar lebih populer, semua anggota aktif ikut mengenalkan. Aktif di media sosial dan kegiatan-kegiatan outdoor yang sifatnya sosialisasi. 

Baca Juga: Satu dari Dua Terduga Teroris di Bekasi Jabat Pengurus RT Bidang Olahraga

"Kebetulan tahun ini kita digandeng Dispora untuk ajang Pekan Olahraga Warga Solo (Porwaso)," tutur dia. 

Load More