SuaraSurakarta.id - Kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau PSBB Jawa-Bali mulai 11 Januari 2021 di Solo Raya menimbulkan pro dan kontra.
Banyak yang mendukung. Namun tak sedikit pula menolak mengingat dampak besar yang dirasakan di berbagai sektor.
Salah satu yang merasakan dampak PPKM adalah para pemandu karaoke atau ladies escort (LC). Seperti di Kota Solo dimana tempat malam harus tutup selama masa PPKM dari 11 Januari 2021 hingga 25 Januari 2021.
Mawar, salah satu LC di sebuah karaoke di Kota Solo mengaku terpaksa pulang ke kampung halaman di Bandung karena tak ada pekerjaan lain.
"Sementara pulang ke Bandung dulu mas. Daripada terus di Solo tidak ada pemasukan malah nombok," ungkap dia kepada SuaraSurakarta.id, Minggu (24/1/2021).
"Ya pontang-panting sekarang mas. Hanya mengandalkan tabungan saja untuk keperluan sehari-hari," tambah dia.
Hal senada juga diungkapkan LC lainnya, Via. Perempuan asal Malang itu mengaku bingung bagaimana harus memberikan kiriman uang untuk kedua anaknya.
"Anak saya memang tinggal bareng orang tua. Tapi biasanya saya kirim uang untuk keperluan harian. Sekarang sementara nganggur ya bingung," tuturnya.
Sementara dilansir dari Solopos.com, ada lebih dari 350 pemandu lagu di Kota Bengawan yang terdampak penutupan tempat karaoke.
Baca Juga: Anggota Komisi IX DPR Ini Minta Pemerintah Terapkan PSBB Total
Sebab ada sekitar 13 tempat karaoke yang menyediakan pemandu karaoke di Solo. Bila jumlah pemandu karaoke di masing-masing tempat karaoke ada 25-30 orang, berarti jumlah total LC Solo mencapai 325 orang hingga 390 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Tanah Air.
Para LC dan pekerja sektor hiburan Kota Solo yang terdampak PPKM itu tak hanya dari wilayah Soloraya atau Jawa Tengah (Jateng).
Pendapatan mereka berdasarkan durasi jam memandu lagu untuk tamu. Pendapatan dari layanan itu terbagi antara manajemen dengan LC.
Artinya mereka hanya mendapat penghasilan ketika mereka mendapat order memandu lagu untuk tamu karaoke. Pengurus Paguyuban Pelaku Hiburan Indonesia Solo, Roy Triyana, mengakui salah satu yang terdampak kebijakan PPKM yaitu para pemandu lagu.
Mereka terpaksa bertahan hidup memakai uang tabungan. Namun bila kebijakan PPKM berlanjut dengan larangan buka bagi tempat hiburan, Roy tak tahu sampai kapan mereka bertahan.
"Banyak anak-anak nganggur. Beberapa dari mereka jual barang untuk makan," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Diwarnai Ketegangan Dua Kubu, Ribuan Warga Tetap Rebutan Telur Asin & Janur di Sekaten Solo
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
BRI Peduli Perkuat Penanganan Gempa NTT, Bangun Posko Logistik dan Dapur Umum
-
Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia
-
Hujan Uang di Klaten! Pengunjung Rebutan Segepok Rupiah dari Atas Flying Fox