- Dapur Keraton Surakarta menyimpan beragam hidangan bangsawan yang kini hampir punah, di mana beberapa resep masih dirawat oleh keturunan abdi dalem juru masak istana.
- Nasi Jemblung menampilkan kolaborasi rasa Jawa dan Belanda, sementara Lodoh Pindang era Pakubuwono X menunjukkan kompleksitas rempah yang melambangkan kemewahan budaya Jawa.
- Versi asli Selat Solo Keraton, Garang Asem yang lebih *creamy*, dan Brongkos yang lebih pekat menggambarkan filosofi serta teknik memasak elegan yang kini sulit ditemukan.
SuaraSurakarta.id - Keraton Surakarta sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Bukan hanya karena dinamika dua versi raja yang berjalan berdampingan, tetapi juga karena semakin banyak orang menoleh kembali pada sisi lain Keraton yang jarang tersorot: warisan kuliner para bangsawan.
Di balik riuhnya perebutan legitimasi dan ritual Watu Gilang, dapur Keraton menyimpan kisah yang sama berwarnanya.
Hidangan-hidangan yang dulu hanya disajikan untuk raja, tamu kehormatan, dan ningrat, kini justru nyaris hilang dari ingatan masyarakat.
Beberapa makanan kuno itu masih berhasil dirawat oleh segelintir keluarga keturunan abdi dalem dan juru masak Keraton.
Baca Juga:KGPH Mangkubumi Dinobatkan PB XIV, Kubu PB XIV Purboyo Bakal Tempuh Jalur Hukum
Dari tangan merekalah cita rasa masa lalu tetap hidup hingga sekarang. Berikut adalah 5 kuliner langka Keraton Surakarta yang lezat, penuh filosofi, dan hampir punah sebagaimana dikutip dari YouTube dan sumber-sumber lainnya.
1. Nasi Jemblung
Makanan khas Keraton yang satu ini mungkin terdengar sederhana, tapi rasa dan penampilannya jelas mencerminkan keanggunan dapur bangsawan.
Nasi Jemblung dibuat dari nasi yang dipadatkan hingga membentuk bulatan besar, lalu bagian tengahnya dibuat cekung untuk menampung kuah.
Kuahnya bukan kuah biasa, melainkan irisan lidah sapi empuk dengan gaya masakan Belanda yang masuk ke dapur Keraton pada masa kolonial.
Baca Juga:Wong Solo Merapat! Saldo DANA Kaget Rp299 Ribu Siap Bikin Hidup Makin Ceria, Sikat 4 Link Ini!
Kolaborasi Jawa–Belanda ini tercatat dalam dokumentasi keluarga Nina Akbar Tanjung, salah satu pewaris juru masak Keraton yang masih menyajikan hidangan ini hingga kini.
Rasanya gurih, pekat, dan mewah. Anak muda yang mencobanya menggambarkan sensasinya seperti “merasakan makanan eksklusif yang dulu hanya untuk raja.”
2. Lodoh Pindang
Jika Nasi Jemblung adalah hidangan elegan yang kalem, maka Lodoh Pindang adalah saudara tuanya yang kaya rempah dan sangat kompleks. Menu ini berasal dari zaman Pakubuwono X, raja yang memerintah di akhir 1800-an hingga awal 1900-an. Lodoh Pindang disajikan dalam berbagai momen penting dan menjadi salah satu favorit sang raja.
Hidangan ini terdiri dari telur, perkedel, sosis solo, dan berbagai rempah yang dimasak dalam kuah pindang gelap yang aromatik. Tingkat kompleksitas rempahnya membuat banyak orang mengaitkannya dengan simbol kemewahan dalam budaya Jawa.
Nina Akbar Tanjung juga mencatat bahwa hidangan ini semakin sulit ditemukan karena prosesnya rumit dan membutuhkan banyak bahan yang tidak murah. Tetapi ketika tersaji, rasa hangat dan wangi rempahnya langsung membawa imajinasi pada masa kejayaan Keraton.
3. Selat Solo Versi Asli Keraton
Banyak orang mengenal Selat Solo sebagai salad Jawa versi modern, tapi versi Keraton jauh lebih kaya. Tidak sekadar sayuran dan bistik Jawa, Selat Solo Keraton menggunakan racikan kuah yang lebih halus, cenderung manis, dan punya aroma khas cengkih serta pala.
Di masa kolonial, menu ini disajikan untuk menyambut tamu Eropa. Namun berbeda dari bistik Belanda, Selat Solo Keraton mempertemukan rasa Jawa yang lembut dan sentuhan Barat yang anggun. Sayuran direbus tepat waktu, daging dimasak perlahan, dan setiap elemen disusun rapi dengan estetika ala bangsawan.
Saat ini, sangat sedikit restoran yang menyajikan versi asli karena membutuhkan teknik memasak yang telaten, mirip metode juru masak Keraton abad lampau.
4. Garang Asem Keraton
Garang Asem yang sering kita temui di warung atau restoran biasanya berkuah lebih cair dan bercita rasa asam segar. Namun Garang Asem versi Keraton memiliki karakter berbeda: lebih creamy, lebih halus, dan dimasak perlahan dalam daun pisang yang disusun berlapis.
Ayam kampung muda dimasak bersama santan tipis, belimbing wuluh, bawang lanang, dan rempah halus yang membuat aromanya wangi lembut.
Hidangan ini biasa disajikan dalam acara keluarga raja dan upacara adat tertentu. Di balik rasa asam-gurihnya, tersimpan filosofi kesederhanaan yang tidak meninggalkan keanggunan.
Masakan ini sering hilang dari daftar kuliner modern karena prosesnya memerlukan keterampilan yang diwariskan turun-temurun.
5. Brongkos Keraton
Brongkos Keraton berbeda dari Brongkos Jogja. Kuahnya lebih gelap, lebih pekat, dan memiliki rasa gurih-manis yang dalam. Warna gelap khasnya berasal dari kluwek, tetapi juru masak Keraton menambahkan teknik sangrai rempah yang membuat aromanya lebih lembut dan elegan.
Daging yang digunakan bisa daging sapi atau galantin, tergantung acara. Di masa lalu, Brongkos Keraton menjadi hidangan penyambut tamu agung dan orang-orang penting yang datang ke istana. Menu ini disebut sebagai hidangan yang “menggambarkan wibawa” karena tampilannya tegas namun rasanya menenangkan.
Kini, Brongkos versi Keraton semakin jarang dibuat karena memakan waktu dan membutuhkan bahan berkualitas tinggi.
Drama suksesi Keraton Surakarta sering mendominasi pemberitaan, tetapi di balik itu ada warisan lain yang tak kalah berharga: kekayaan dapur para raja. Kuliner-kuliner yang hampir punah ini adalah bagian penting dari sejarah budaya Jawa yang patut dijaga, bukan hanya dinikmati.
Kontributor : Dinar Oktarini