Tambah Mulyono, penyelenggaraan tradisi ini dalam rangka melestarikan budaya Jawa yang dilakukan setiap usai hari raya Idul Fitri.
Sementara dipilih gunungan apem sebagai tradisi yang dilestarikan ini, lantaran apem memiliki filosofi bahwa setelah menekan hawa nafsu selama sebulan, maka perlu adanya silaturahmi antar sesama untuk saling memaafkan.
"Ini adalah nguri-ngurj budaya jawa. apem itu kan ada filosofinya. Nah itu yg akan kita plihara, bagaimana kita supaya orang jawa ora ilang jawane. Kemudian bagaimana kita saling memaafkan," kata dia.
Selain melestarikan budaya, tradisi ini juga sebagai pertanda kembali dibukanya pasar wisata Ciplukan setelah libur selama bulan Ramadhan.
Baca Juga:4 Tradisi Lebaran di Jatim, Momen Tahunan yang Selalu Dirindukan
"Setelah puasa buka pertama kali itu apem, itu akan kita jadikan agenda tahunan. Jadi pertama setelah lebaran apem, akhir bulan syawal pasti ketupat, dan dilanjutkan dengan event lain," paparnya.
Dikesempatan yang sama, Warga Desa Gentungan, Indah mengaku,sangat senang bisa mengikuti prosesi Gunungan Apem Sewu meski harus berdesak-desakan dengan warga lain.
"Seneng, bisa ikut meramaikan, bisa dapet berkahnya, ini juga baik untuk para pedagang pasar ciplukan, bisa rame dan dapat berkahnya juga," tandasnya.
Kontributor : Budi Kusumo
Baca Juga:4 Tradisi unik saat Lebaran di Berbagai Daerah di Indonesia: Ngejot hingga Pukul Sapu