Tradisi nyadran makin lama terus berkembang hingga saat ini. Warga masih terus menggelar untuk mengenang para leluhurnya.
"Jadi dari awal terus berkembang hingga masuk pada masa Islam. Hanya saja tata caranya agak berbeda dengan tradisi pada masa awal, karena sekarang menyesuaikan dengan ajaran Islam, mungkin tata cara atau doanya," paparnya.
Menurutnya, pada masa Sultan Agung menetapkan tahun Jawa, yang memadukan kalender Islam dan kalender Saka. Dalam kalender Jawa tersebut ada 12 bulan, dan salah satunya adalah bulan Ruwah.
"Bulan ruwah kalau orang Jawa itu mengatakan untuk unggahan. Artinya menaikan doa kepada para leluhurnya," sambung dia.
Bulan ruwah ini merupakan tanda penghormatan kepada para leluhurnya. Sehingga anak keturunannya pada bulan ruwah ini melakukan nyadran dan bersih-bersih di makam.
"Jadi ini sebagai rasa wujud doa anak keturunannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar leluhurnya dapat terima Tuhan," ungkap dia.
Memang tradisi sadranan digelar sebelum bulan Ramadhan. Karena pada masa Mataram Islam, Sultan Agung menyampaikan bahwa kebiasaan orang Jawa itu dilakukan pada bulan ruwah, bulan sebelum Ramadhan.
"Mungkin merupakan suatu momentum agar ada kesamaan kegiatan yang dilakukan warga dan kerajaan, seperti upacara atau kegiatannya," terangnya.
Dikatakannya, jika tradisi nyadran ini merupakan bentuk akulturasi atau perpaduan budaya. Jadi tradisi ini sudah ada sejak dulu dan turun temurun dilakukan oleh warga hingga sekarang.
Baca Juga:Hadir Dalam Jumenengan KGPAA Mangkunegara X, Ini Harapan dari Trah Kerajaan Mataram Islam
"Tradisi ini merupakan budaya masyarakat Jawa. Ini sudah turun temurun sejak dulu hingga sekarang," tandas dia.