Tari Tayub Tetap Lestari di Sragen, Begini Filosofinya

Tari tayub merupakan kesenian khas Jawa Tengah, di Sragen tayuban tak tergerus oleh zaman

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 20 Maret 2021 | 08:28 WIB
Tari Tayub Tetap Lestari di Sragen, Begini Filosofinya
Ilustrasi tari tayub yang tetap lestari di Kabupaten Sragen (Agoes Rudianto/JIBI/SOLOPOS)

Hal itu menunjukkan makna hanggayuh kasampurnaning dumadi yang berarti meraih kesempurnaanhidup. Dua dari empat lareh berada di belakang kunjer, sementara dua lareh lainnya berada di belakang waranggono atau ledek.

“Empat lareh itu merupakan simbol empat perkara yang harus bisa dikendalikan manusia. Mereka adalah angkara murka, amarah, rasa iri dengki dan nafsu birahi. Kalau empat perkara itu bisa dikendalikan, maka seseorang akan bisa meraih kesempurnaan hidup,” jelas Syamsudinu.

Waranggono atau ledek sendiri berasal dari istilah leledo atau bebedo yang berarti godaan. Seorang ledek memiliki tugas untuk menggoda seorang pria guna menguji kuat tidaknya imannya dengan tarian dan tembang.

“Pementasan tayub itu di bawah iringan musik gamelan lengkap dengan nada dasar atau laras laras slendro maupun pelog,” terang Syamsudinu.

Baca Juga:Tol Sragen Makan Korban Lagi, Kecelakaan Karambol Tewaskan 3 Orang!

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini