Budi Arista Romadhoni
Kamis, 01 Oktober 2026 | 07:49 WIB
Saksi hidup peristiwa G30SPKI di Kota Solo, HM Sungkar saat ditemui. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • HM Sungkar dalam perjalanan pulang dari Magelang ke Solo dicegat oleh anggota PKI di Prambanan pada 22 Oktober 1965.
  • Sungkar menemukan jenazah adik sepupunya bernama Salim bersama korban pembantaian lain di RSUD dr Moewardi Solo.
  • Jenazah Salim berhasil diambil pihak keluarga dengan pengawasan ketat untuk kemudian dimakamkan di tengah situasi kota yang mencekam.

"Saya sempat tanya ke kakak kalau adiknya di mana dan ternyata tidak tahu. Kemudian mencoba mencari," tuturnya.

Saat paginya sekitar pukul 09.00 WIB dapat info, banyak mayat di RSUD dr Moewardi yang dibunuh sama PKI.

Bersama sejumlah orang sekitar pukul 10.00 WIB memberanikan untuk ke kamar jenazah. Saat masuk banyak mayat yang tergelak sekitar 19 anak, dari jumlah itu dipastikan ada adik sepupunya yang jadi korban.

"Jam 10 saya memberanikan diri datang ke kamat mati Jebres, saat masuk saya lihat beberapa anak yang tergeletak ada mungkin 19 anak. Salah satunya saya pastikan itu saudara saya, karena dipakai celana dalam dari sarung tenun 'saya lihat, loh itu saudaraku' saudara sepupu saya namanya Sallim ketika itu usianya 17 tahun," papar dia.

"Saya lihat itu Salim, lalu saya lihat lagi Arab satu karena mukanya itu lain sama yang lain bernama Alwi Hasan Assegaf. Jadi dua orang yang Arab. Lainnya 17 itu ada yang dibunuh di Kedung Kopi dan ditembak di Gladak," tuturnya.

Mereka yang meninggal itu kondisinya sangat memprihatinkan. Ada yang ditusuk dari leher tembus sampai di kepalanya, ada juga kemaluannya dipotong ditaruh di sabuk, itu membuatnya menangis sekaligus geram.

"Itu yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya ke rumah sakit itu bersama beberapa orang," kata dia.

Saat hendak mengambil jenazah dua anak dari Pasar Kliwon itu tidak mudah, karena penjagaan ketat oleh kepolisian dan pihak rumah sakit.

Namun hanya boleh mengambil jenazah yang dikenal, yakni saudara sepupunya kalau yang lainnya tidak boleh. Setelah diambil lalu dibawa ke rumahnya, bahkan bapak ibunya tidak mau melihatnya. 

Baca Juga: Cerita Paman Aldo, Penumpang Kapal Virgo Transport 8, Niat Bekerja untuk Bantu Orang Tuanya

“Jenazah adik saya Salim ini kami bawa, ketika itu jalan sepi sekali, kalau saya bilang kotanya-kota mayit,” kenangnya.

Diceritakannya itu saat Jumat 22 Oktober itu ada demo, kemudian ada oknum aparat datang dan menyampaikan ke gerombolan pemuda jika masalah ini sudah selesai dan agar kumpul di Balaikota Solo. 

Saat berjalan menuju Balaikota Solo bersama-sama, saat sampai di Gladak tepatnya di depan gereja, para pemuda dihadang dan ditembaki dari arah timur. 

Masa pun langsung bubar dan lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari tembakan tersebut. Ada juga yang dibawa ke Kedung Kopi lalu dieksekusi. 

Setelah peristiwa itu kemudian dilakukan sweeping atau pembersihan besar-besar anggota PKI di Kota Solo dan daerah lainnya.

Jadi dicari dan diburu, ditangkap oleh tentara maupun warga juga ikut membantu.

Load More