Ronald Seger Prabowo
Sabtu, 21 Maret 2026 | 06:00 WIB
Masjid Syekh Zayed Kota Solo. [Dok Pemkot Surakarta]
Baca 10 detik
  • Kota Solo menawarkan lima destinasi wisata religi bersejarah untuk memperdalam nilai spiritual saat momen Idul Fitri.
  • Masjid Raya Syekh Zayed Solo, hibah dari UEA, memiliki arsitektur replika dari Abu Dhabi dan kapasitas besar.
  • Destinasi lain mencakup Pura Indra Prasta, Masjid Agung Surakarta, Astana Oetara, dan Langgar Merdeka bersejarah.

Masjid yang memiliki arsitektur Jawa kuno ini merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia. Merupakan bagian dari Keraton Kasunanan Surakarta, Masjid Agung menempati lahan seluas 19.180 meter persegi.

Masjid ini dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota).

4. Astana Oetara

Astana Oetara adalah sebuah kompleks pemakaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI beserta keluarga, kerabat dan para abdi dalemnya yagn berada di Kampung Nayu, Banjarsari, Kota Solo.

Makam ini sudah ada sejak tahun 1928 ketika jenazah Mangkunegara VI dibaringkan di pemakaman ini. Ir. Soekarno yang kelak merupakan Presiden Pertama Republik Indonesia disebut-sebut sebagai arsitek Astana Oetara.

KGPAA Mangkunegara VI adalah putra keempat Mangkunegara IV. Gelar Kanjeng Pangeran Arya (KPA) Dhayaningrat disandangnya saat berusia 17 tahun.

Setelah dikukuhkan sebagai punguasa Mangkunegaran untuk menggantikan kakaknya Mangkunegara V, KPA Dhayaningrat menyandang gelar KGPAA Mangkunegara VI, yang menurut tradisi keraton seharusnya jatuh kepada putra Mangkunegara V.

5. Langgar Merdeka

Berlokasi di Jl. Dr. Radjiman No. 565 Laweyan, Solo, Langgar Merdeka merupakan salah satu ikon penanda menuju Kampung Batik Laweyan. Langgar yang berarti mushala kecil ini berdiri di tanah wakaf seluas 179 meter persegi.

Baca Juga: Jelang Idul Fitri, Polres Karanganyar Awasi Distribusi BBM dan Bahan Pokok

Pembangunan Langgar Merdeka dimulai pada tahun 1942 dan selesai pada tanggal 26 Februari 1946 yang kemudian diresmikan oleh Menteri Sosial pertama Indonesia, Mulyadi Joyo Martono.

Bangunan Langgar Merdeka sebelumnya adalah bangunan rumah toko milik warga keturunan Tiongkok yang dipakai untuk berjualan candu (ganja).

Kemudian bangunan ini dibeli oleh H. Imam Mashadi yang lantas beralih fungsi. Terlihat pada dinding luar atas tulisan tanggal pendirian bangunan aslinya, yaitu pada 7 Juli 1877.

Load More