SuaraSurakarta.id - Pasangan Prabowo-Gibran telah menyiapkan konsep yang matang tentang pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Kawasan ini rencananya akan menjadi pusat ekosistem digital Indonesia, yang didukung sembilan kota lainnya menjadi kota dengan industri berteknologi tinggi.
Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Budiman Sudjatmiko mengatakan, pembangunan 10 kota berteknologi tinggi ini bertujuan membangun ekosistem digital Indonesia agar tidak tertinggal dari negara-negara lain.
Meski merupakan proyek besar, pemerintah tak perlu bingung dengan sumber pendanaannya. Menurut Budiman, system pendanaan tidak hanya bersumber dari APBN atau APBD saja, tetapi bisa dari Foreign Direct Investment (FDI) dan potensi sumber daya manusia masing-masing daerah.
"Kalau berbicara bisnis, setiap orang dan investor sudah membayangkan proyeksi mana yang non-profit dan yang profit sebagai super hub ekosistem digital. Hitung-hitungan itu yang akan didetailkan pada pemerintahan Prabowo-Gibran nanti," kata Budiman.
Namun jangan lupa, semua investasi tidak harus berbentuk raw materials, tetapi penciptaan mata rantai awal sudah menjadi investasi, yakni brain (otak). Talenta-talenta itulah yang akan dididik lewat sekolah unggulan di setiap kabupaten/kota.
Prabowo-Gibran menawarkan pendekatan kesiapan teknologi dan kesiapan pasarnya sekaligus bersama para stakeholder. Ada kekuatan otak komunitas, uang, dan pemerintah.
"Masing-masing ada hubunganya, kita bangun ekosistem," ujar Budiman.
Pakar Big Data dari Laboratorium M-Data Analytix, Andre Ardi dari Ilmu Hubungan Internasional Universitas Prof. Dr. Moestopo menyampaikan bahwa kebutuhan pembangunan satu ekosistem digital di satu kota mencapai Rp125 triliun.
Baca Juga: Panen Prestasi, NPC Indonesia Nilai 2023 Sebagai Tahun Emas Atlet Disabilitas
Hal itu bisa dipenuhi jika Hilirisasi Industri Digital direalisasikan. Sebab konsep ini mampu mendatangkan pendapatan negara melalui FDI yang menjadikan Indonesia tempat investasi serta pemasukan pajak, yang selama ini lari ke negara lain.
Hal senada disampaikan Analis Laboratorium M-Data Analytix, Danny Wibisono yang berharap terwujudnya Ketahanan Ekonomi Digital Indonesia.
"Secara geopolitik dan geostrategis, negara kita memiliki kapasitas dan kapabilitasnya, tinggal good will dan tata kelolanya yang baik. Tentunya dimulai dengan hilirisasi industri digital yang harus dilakukan," katanya.
Namun Danny tetap mewanti-wanti potensi adanya perlawanan asing atas kebangkitan Indonesia, seperti saat melawan World Trade Organization (WTO) yang menjadi satu-satunya organisasi internasional yang mengatur perdagangan internasional.
"Karena ini menyangkut kepentingan nasional negara kita," tegas Danny Wibisono.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
PGS Resmi Tutup Permanen Gara-gara Pailit, Pedagang Mulai Kosongkan Kios dan Pindah
-
BRI Optimalkan Likuiditas Dari Dana SAL Untuk Percepat Pembiayaan Sektor Riil
-
Menengok Rumah Slamet Riyadi yang Direhabilitasi, Sosok Pemberani yang Gugur di Medan Perang
-
Duh! PN Solo Tolak Gugatan Gusti Moeng Soal Nama PB XIV, Kabulkan Eksepsi Tergugat
-
BRI Dorong Remitansi PMI Jadi Modal Usaha Produktif Melalui Pelatihan Kewirausahaan di Taiwan