SuaraSurakarta.id - Mohammad Hasil Tamsil, ayah dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, Wahyu Dian Silviani meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kematian putrinya. Karena kematian putrinya merupakan kasus kriminalitas.
"Kasus kematian anak saya ini adalah kriminal. Kami di keluarga ikhlas karena sesungguhnya ini sudah menjadi kehendak Allah SWT," ujarnya, Jumat (25/8/2023).
"Kita hanya menjalankan skenario yang disusun oleh Allah SWT. Tapi karena ini adalah masalah kriminalitas, saya mohon kepada pak polisi untuk diusut tuntas," katanya.
Tamsil menegaskan bahwa ini adalah masalah kejahatan. Ia juga memohon kepada lembaga ini (UIN) untuk menjadi wakil penggantinya di sini.
"Mataram, Solo itu kan cukup menyita waktu. Penerbangan tidak ada setiap saat. Bahkan kemarin saat mendengar berita, saya mau lari kemari langsung tapi apa mau dikata penerbangan tidak ada, sampai kami langsung cari informasi ada tiket tidak," papar dia.
Tamsil menceritakan bahwa anaknya punya dedikasi totalitas. Memang anaknya demikian dari kecil, anaknya tidak liku-liku, tidak memiliki keinginan macam-macam.
"Tidak menyusahkan orang tua, sekolah dia nyari biasa sendiri dan menyibukkan orang tua. Di mana ada kerja dicintai, masuk di Universitas Mataram sebagai tenaga kontrak dan harapannya bisa tetap tapi Allah menginginkan beda, anak saya dikirim ke tempat ini (UIN) dari sini berkarir selama tiga tahun dan ini harus ikhlas berpisah," jelasnya.
Tamsil juga meminta kepada semua pihak kalau anaknya punya kesalahan baik kecil atau besar bisa dimaafkan.
Bahkan kalau anaknya mungkin ada hutang atau sejenisnya bisa disampaikan. Kalau utangnya kecil bisa diikhlaskan, kalau besar siap untuk menyelesaikannya.
"Kontak kami dan akan selesaikan," imbuh dia.
Sementara itu Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta, Muhammad Rahmawan Arifin mengatakan tadi ayahandanya menyampaikan kepada kepolisian untuk mengusut tuntas tentang kejadian ini.
"Karena bagaimana juga kematian almarhumah dengan cara tidak wajar dan beliau (ayahanda) mengetahui. Ini sudah disampaikan ke bapak kapolsek agar diusut setuntas-tuntasnya dan berharap kepada lembaga untuk bisa mewakili keluarga," terangnya.
Rahmawan menambahkan belum bisa mengambil keputusan terkait keluarga yang minta lembaga (UIN) untuk mewakili keluarga. Nantinya akan dibicarakan dulu dengan pihak rektorat dan kampus bagaimana langkah-langkah berikutnya.
"Kami belum mengambil keputusan seperti ada. Dari kampus juga ada perwakilan yang langsung ikut ke Mataram sampai proses pemakaman," pungkas dia.
Kontributor : Ari Welianto
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Gara-Gara Baliho Ulang Tahun Jokowi, Wali Kota Solo Diperingatkan Gerindra
-
Jokowi Siapkan Agenda Keliling Indonesia, Besok ke Lampung
-
Dapur SPPG Ketaon Boyolali Dibobol Maling, Kerugian Capai Rp21 Juta
-
Lebih dari Sekadar Lari: Soeharso Inclusive Run 2026 Rayakan Keberagaman dan Kesehatan
-
Sespri Presiden Prabowo, Rizky Irmansyah Tiba-tiba Temui Jokowi di Solo