Tenggelam Banjir 1966
Pada 15 Maret 1966 di Kota Solo terjadi banjir besar. Klenteng Tien Kok Sie ikut tenggelam.
Meski tenggelam, tapi Kimsin atau para suci yang diwujudkan (visualisasikan) tidak ada yang hanyut atau hilang. Hanya surat-surat yang semuanya hilang dan itu yang membuat sangat hilang.
"Kalau ada yang cerita klenteng tidak tenggelam saat banjir besar tahun 1966, itu tidak benar. Siapa yang bisa melawan alam tidak bisa, tugu jam depan Pasar Gede cuma menyisakan beberapa sentimeter saja. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari klenteng," sambung dia.
Masa Orde Baru (Orba)
Pada masa orde baru yang menyedihkan bagi umat konghucu. Namun, meski ada kerusuhan masa itu, klenteng tetap aman.
Dulu pernah ada aturan jika tempat ibadah dan yang dituju adalah agama konghucu. Karena dulu ada persepsi agama konghucu itu 99 persen orang Tionghoa dan tidak boleh melakukan ibadah secara umum di Klenteng.
"Makanya dulu orang konghucu sembahyang dan berdoa di rumah. Waktu itu klenteng diminta untuk ditutup, itu sekitar tahun 1970 an," paparnya.
Waktu itu pengurus klenteng dipanggil dan papan nama dengan tulisan Tionghoa yang ada di atas pintu masuk diminta diturunkan. Lalu klenteng diminta untuk ditutup.
Baca Juga: Kumpulan Kata-Kata Kartu Ucapan Imlek 2023 dan Cara Membuatnya, Gratis!
"Lalu pengurus bilang 'mohon maaf, kita ini mendapat amanah kepercayaan dari para leluhur. Jadi kalau saya diminta menurunkan itu atau menutup klenteng ini, saya tidak berani'. 'Tapi kalau bapak mau menurunkan dan menutup, silahkan'," cerita dia.
Dulu segala kebudayaan dan kesenian juga sangat dibatasi. Pernah klub barongsai mau main di PMS didatangi dan dimaki-maki.
"Setelah sekarang boleh main lagi, saya kalau melihat barongsai nangis. Dulu kebudayaan dan kesenian dibatasi," terangnya.
Mantri, sapaan akrabnya mengatakan untuk menyiasati saat klenteng diminta ditutup. Maka banyak klenteng-klenteng yang namanya dirubah menjadi vihara, sehingga banyak yang menyebut klenteng sebagai vihara.
"Jadi ada permasalahan mau ditutup, untuk menyiasati itu. Banyak klenteng-klenteng yang namanya dirubah jadi vihara," ucap dia.
Pada peristiwa 1998 dan terjadi kerusuhan. Para pengemudi becak, buruh dan orang-orang sekitar itu menghadang serta menghalau saat mau ada yang masuk ke klenteng.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ika Wonda Hattrick, MilkLife Strikers Buka Singa Cup 2026 dengan Kemenangan Telak
-
Latihan Jadi Pengusaha Digital, Santri di Solo Mimpi Buka Warung Pecel Lele
-
Persis Solo Tunggak Sewa Stadion Manahan Rp 3,21 Miliar, BRM Kusumo Putro: Ini Memalukan!
-
Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar